Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for Wonosobo

Menapaki Syukur dari Allah Melalui Gunung Sikunir, Dieng Plateu (What a disaster journey, but..)

Image

Pagi-pagi buta, kamar kami sudah dipenuhi dengan hiruk pikuk untuk persiapan tracking ke Gunung Sikunir, Dieng, Banjarnegara. Yes!! Ini kali pertama bagi saya memulai perjalanan menuju gunung dan chasing the sunrise. Excited! Saya yang telah lama mempersiapkan berbagai peralatan tempur seperti jaket super tebal dan anti air, sarung tangan, syal, kaos kaki dan sendal gunung itu cukup dikatakan berlebihan. Saya seperti mentertawakan diri sendiri, karena teman-teman seperjalanan saya cukup simple mempersiapkan semuanya..hahhahaa.. But anyway, pukul 03.00 WIB memang sangat dingin, ketika saya tanyakan kepada pak didiek (guide kami), “Pagi ini cukup dingin mbak, karena semalam habis hujan, ini bisa mencapai -5 derajat”. Waahh… saya buru-buru menambahkan dalaman jaket biasa sebagai sumpelan agar hangat.

Jam 03.30 WIB, kami tiba di gerbang Gunung Sikunir. Saat itu, di pelataran parkir sudah banyak rombongan yang berkumpul untuk memulai tracking ke atas. Bisa dipastikan 90% adalah rentang usia 15 – 30 tahun, usia-usia dimana travelling menjadi jiwa sekaligus candu bagi mereka, termasuk saya. Yap! kami pun siap memulai tracking pagi ini, tetapi ketika akan mau berjalan, kami menyadari satu kesalahan, kami tidak mempersiapkan senter!! Kondisinya adalah gelap gulita, dan jarak pandang tidak mampu menembus jalanan. Kami mulai panik, untungnya ada ibu-ibu penjual makanan yang menawarkan diri, “ayo mbak bareng-bareng saya saja..”. Tampaknya semuanya kembali lancaaarr….

Menapaki satu demi satu track gunung itu, cukup melelahkan. Cuaca yang minus derajat tersebut, membuat nafas kami menjadi pendek. Saya pun yang memiliki record asma, tiba-tiba saja mulai sesak nafas. Tetapi saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu pedagang itu, mereka membawa beban yang cukup berat di pundak dan punggungnya tetapi tidak mengeluh. Bahkan kecepatan berjalan mereka cukup stabil. Padahal bisa dibilang umur mereka diatas 50 tahun, mendaki gunung ini sepertinya menjadi makanan mereka sehari-hari. Melihat mereka menjadi motivasi bagi saya, bahkan saya pun menjadi yang pertama sampai di puncak gunung di rombongan saya.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak Gunung Sikunir, memang tidak terlalu tinggi karena Dieng sendiri sudah pada dataran tinggi. Ketika mencapai puncak, tepat pukul 04.30 WIB, suasana masih remang-remang gelap dan penuh kabut tebal. Adzan pun berkumandang, lagi-lagi saya kelupaan membawa mukena. Setelah celingak celinguk, saya mendapati ada dari rombongan lain sedang beribadah dengan kondisi seadanya. Melihat rombongan tersebut, saya menghampiri mereka dan berbincang pada salah satu rombongan untuk meminjam mukenanya. Alhamdulillah Allah selalu mengingatkan saya untuk beribadah dan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk beribadah, meskipun saya selalu lupa membawa mukena. hehe…

Perbedaan solat di masjid, rumah dan di kamar dengan solat diatas gunung itu sungguh luar biasa berbeda. Bukannya melebih-lebihkan, tetapi ketika saya menjalani rakaat demi rakaat diatas gunung itu, hati saya selalu tergetar. Saya bersujud dan mengucapkan syukur, persis didepan keAgungan Allah SWT. Pemandangan yang terhampar persis di depan saya saat bersujud dan berdoa ini, tampaknya menjadi bukti betapa kecilnya saya sebagai salah satu ciptaan Allah. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya saat beribadah di atas gunung, hal ini menjadi salah satu tamparan bagi saya untuk selalu bersyukur atas kehidupan di dunia.

Image

Kuning Keemasan di langit menjadi pengingat kalau matahari akan muncul di balik awan. Sayangnya kabut tebal menjadi penghalang keindahan itu. Kami hanya mendapati warna-warna keemasan diantara birunya langit subuh hari itu. Namun hal ini tidaklah mengecewakan kami, karena kami sudah cukup puas melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Subhanallah…