Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for jalan-jalan

1001 jam dalam kehidupan bus! (What a disaster journey.but…)

image

Mendapati diri duduk di tengah pada bus yang memiliki formasi kursi 3-2 adalah musibah buat saya.. Iya! Saya pikir duduk ditengah2 pada formasi 3nya bisa saya lewati dengan mudah dan optimis, perjalanan ini akan menyenangkan!.

Melihat penderitaan teman-teman saya yang duduk pada posisi yang tidak nyaman menjadi cerita unik buat kami selama perjalanan ini.

Terkikik, adalah hal pertama buat kami dalam mentertawakan diri kami.. Bayangkan saja, saya duduk di antara dua ibu-ibu rempong yang bawa segambreng kardus.. Bau ketek, bukan lagi maslah buat saya, karena saya bisa sangat memaklumi penuhnya bus membuat air-conditioning tidak mampu mengatasi kegelisahan dan ramainya penumpang bus. Yang paling menjadi masalah terbesar dalam posisi duduk saya adalah seorang Ibu yang memiliki hobi : mengeluh dan cerewet.

Oke! Saya mulai dengan kosakata CEREWET. Kata ini emang tidak asing bagi saya namun, kata ini saya sangat berharap jauh2 dari kehidupan saya saat itu. Sepanjang perjalanan, ibu disebelah kanan saya ini, sebut saja bu Tini, dari awal saya duduk sampai turun bus tidak pernah berhenti bicara. Pembicaraan pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Pak supir..kapan sampai?” Dan kalimat yang terkakhir saya dengar dari mulutnya adalah “Pak supir, ini kapan sampainya?”. Apa perlu saya ceritakan mengapa dia saya sebut cerewet? Semua orang pasti paham pertanyaan yg berulang2 itu sengaja dikeluarkan menandakan ketidaksabaran seseorang dalam memahami situasi yang ada.

Perlu dibayangkan, apa yang saya rasakan setiap menandapati pertanyaan itu tepat didepan telinga kanan saya? Menggila! Iya saya menjadi semakin menggila dan menjadi tidak nyaman. Setiap bu Tini bertanya saya hanya bisa tersenyum. Senyum miring dengan derajat kemiringan 45°, yang berarti kecanggungan dan tidak menyenangkan.

Kosakata kedua selanjutnya adalah MENjGELUH. Kata sifat satu ini adalah sifat negatif yang saya tidak sukai. Mendengar orang mengeluh, sama saja membuat saya membawa beban pikul seberat 100kg. Keluhan yang dikeluarkan itu sebenarnya pun tidak penting untuk dikeluarkan karena bukan hanya menyembuhkan hati yang cemas tetapi malah membuat rasa cemasnya menjadi 100x lipat.

Mendengar bu Tini disebelahku selalu mengeluh seperti kursi sempit, panas, lama, lambat, macet, dan sebagainya itu, sama saja mentransfer energi negatif yang dimiliki bu Tini kepada saya. Ion negatif itu membuat saya menjadi terasa lebih capek!

Perjalanan seolah melambat akibat ketidaknyamanan yang dimiliki satu orang menjadi milik bersama.

Jarak tempuh normal jakarta – wonosobo kurang lebih 12 jam ini, menjadi 2 kali lipat mencapai 24 jam untuk menjangkau Dieng Plateu, lokasi wisata yang saat itu sedang mengadakan festival dieng..

24 jam seperti 1001 jam. Aku mendapat diri saya untuk dipaksa tidur bila ada kesempatan demi menghindari dari keluhan Bu Tini yang super dahsyat!!

Penderitaan saya bukanlah yang terhebat. Teman perjalanan saya delti, dia terpaksa duduk di kursi tambahan disebelah supir persis. Bukan karena kursi tambahannya, tetapi karena dia harus terpaksa menemani si supir mengobrol karena takut si supir mengantuk. Baiknya adalah sifat ramahnya, mampu membuat supir berbincang asik dengannya, sehingga si supir tidak kembali mengantuk. Tetapi ramah itu juga kan  tidak harus dengan cara menemani supir mengobrol semalaman suntuk…

Aaahh… Penderitaaan 24 jam perjalanan itu seperti 1001 jam yang memiliki banyak rasa dan cerita.. Kesal dan tertawa adalah dua hal yang berbeda, namun perjalanan saya ini bisa membuat 2 hal yang bertolak belakang menjadi 1 hal yang terjadi saat bersamaan.

Blind Travelling

Kategori “Travel Time” masih kosong nih. Sebentar lagi saya akan mengisi lembaran blog saya dengan perjalanan “blind travelling” saya dengan teman-teman terbaik saya.

Seorang teman mencetus, “Gimana kalau kita ke stasiun dan kita beli tiket random yang saat itu masih ada”. Dengan terkejut aku pun membalasnya dengan berbinar-binar, “huaaaaa…. itu hal paling gila yang ingin aku lakukan dari dulu!! Count on me!!”.

Pertengahan Maret ini, saya akan mengalami perjalanan luar biasa, dan sampai dengan sekarang saya masih belum tahu kemanakah perjalanan ini membawa saya pergi. Yang saya tahu ini adalah hal yang sudah lama saya inginkan sejak dari dulu, namun saya belum mempunyai “partner” yang error, bego, sok berani seperti saat ini. So, cerita nya akan saya lanjutkan setelah saya melakukan perjalanan “Blind Travelling” Maret ini. Semoga akan banyak hal yang bisa mengembalikan mood saya dalam menjalani rutinitas ini.

Wwwohoooooooooo… I’m so excited!!!