Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for Travel Time

Menapaki Syukur dari Allah Melalui Gunung Sikunir, Dieng Plateu (What a disaster journey, but..)

Image

Pagi-pagi buta, kamar kami sudah dipenuhi dengan hiruk pikuk untuk persiapan tracking ke Gunung Sikunir, Dieng, Banjarnegara. Yes!! Ini kali pertama bagi saya memulai perjalanan menuju gunung dan chasing the sunrise. Excited! Saya yang telah lama mempersiapkan berbagai peralatan tempur seperti jaket super tebal dan anti air, sarung tangan, syal, kaos kaki dan sendal gunung itu cukup dikatakan berlebihan. Saya seperti mentertawakan diri sendiri, karena teman-teman seperjalanan saya cukup simple mempersiapkan semuanya..hahhahaa.. But anyway, pukul 03.00 WIB memang sangat dingin, ketika saya tanyakan kepada pak didiek (guide kami), “Pagi ini cukup dingin mbak, karena semalam habis hujan, ini bisa mencapai -5 derajat”. Waahh… saya buru-buru menambahkan dalaman jaket biasa sebagai sumpelan agar hangat.

Jam 03.30 WIB, kami tiba di gerbang Gunung Sikunir. Saat itu, di pelataran parkir sudah banyak rombongan yang berkumpul untuk memulai tracking ke atas. Bisa dipastikan 90% adalah rentang usia 15 – 30 tahun, usia-usia dimana travelling menjadi jiwa sekaligus candu bagi mereka, termasuk saya. Yap! kami pun siap memulai tracking pagi ini, tetapi ketika akan mau berjalan, kami menyadari satu kesalahan, kami tidak mempersiapkan senter!! Kondisinya adalah gelap gulita, dan jarak pandang tidak mampu menembus jalanan. Kami mulai panik, untungnya ada ibu-ibu penjual makanan yang menawarkan diri, “ayo mbak bareng-bareng saya saja..”. Tampaknya semuanya kembali lancaaarr….

Menapaki satu demi satu track gunung itu, cukup melelahkan. Cuaca yang minus derajat tersebut, membuat nafas kami menjadi pendek. Saya pun yang memiliki record asma, tiba-tiba saja mulai sesak nafas. Tetapi saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu pedagang itu, mereka membawa beban yang cukup berat di pundak dan punggungnya tetapi tidak mengeluh. Bahkan kecepatan berjalan mereka cukup stabil. Padahal bisa dibilang umur mereka diatas 50 tahun, mendaki gunung ini sepertinya menjadi makanan mereka sehari-hari. Melihat mereka menjadi motivasi bagi saya, bahkan saya pun menjadi yang pertama sampai di puncak gunung di rombongan saya.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak Gunung Sikunir, memang tidak terlalu tinggi karena Dieng sendiri sudah pada dataran tinggi. Ketika mencapai puncak, tepat pukul 04.30 WIB, suasana masih remang-remang gelap dan penuh kabut tebal. Adzan pun berkumandang, lagi-lagi saya kelupaan membawa mukena. Setelah celingak celinguk, saya mendapati ada dari rombongan lain sedang beribadah dengan kondisi seadanya. Melihat rombongan tersebut, saya menghampiri mereka dan berbincang pada salah satu rombongan untuk meminjam mukenanya. Alhamdulillah Allah selalu mengingatkan saya untuk beribadah dan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk beribadah, meskipun saya selalu lupa membawa mukena. hehe…

Perbedaan solat di masjid, rumah dan di kamar dengan solat diatas gunung itu sungguh luar biasa berbeda. Bukannya melebih-lebihkan, tetapi ketika saya menjalani rakaat demi rakaat diatas gunung itu, hati saya selalu tergetar. Saya bersujud dan mengucapkan syukur, persis didepan keAgungan Allah SWT. Pemandangan yang terhampar persis di depan saya saat bersujud dan berdoa ini, tampaknya menjadi bukti betapa kecilnya saya sebagai salah satu ciptaan Allah. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya saat beribadah di atas gunung, hal ini menjadi salah satu tamparan bagi saya untuk selalu bersyukur atas kehidupan di dunia.

Image

Kuning Keemasan di langit menjadi pengingat kalau matahari akan muncul di balik awan. Sayangnya kabut tebal menjadi penghalang keindahan itu. Kami hanya mendapati warna-warna keemasan diantara birunya langit subuh hari itu. Namun hal ini tidaklah mengecewakan kami, karena kami sudah cukup puas melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Subhanallah…

Finally, kami tiba di Dieng Plateu! (What a disaster journey, but..)

image

Welcome!!

Perjalanan 24 jam itu segera terlupakan, setelah saya melihat remang-remang gapura selamat datang di Objek Wisata Dieng Banjarnegara, yang telah ditutupi kabut dingin malam. Ya, kami tiba di dieng sekitar jam 8 malam. Saat itu kami
kesenangan setengah mati melihat area dieng seperti melihat surga, setelah mengalami penderitaan panjang di dalam bus.

Tepat pukul 09.00 malam, setelah menikmati air es beku untuk mandi. Kami siap menikmati malam hari itu dengan berkumpul dengan para traveler melihat pesta kembang api dan pesta lampion di kawasan candi arjuna.

Pesta kembang api sih sudah menjadi hal yang biasa, namun yang paling kami tunggu ada pelepasan lampion. Pasti romantis dehh! Eeh.. Lupakan kata romantis, karena saya kesana tidak bersama pacar/gebetan/temen dekat/suami. Tapi saya pergi bersama para traveler narsis.. 2 wartawan, 2 pegawai bank, 1 pegawai kedutaan dan 1 PNS, sebut saja abe, bayu, delti, iran, catur dan saya sendiri.

image

(Dari atas-bawah/kanan-kiri) abe, bayu, catur, delti, saya di kawasan candi arjuna.

Bukannya romantis, teman2 saya selalu meminta difoto setiap moment. Padahal saya bawa kamera mirrorless untuk hunting foto2 keren tetapi saya malah menjadi “tukang foto”nya temen2 traveler narsis saya.. 😀

image

Pesta Lampion

Kembali lagi ke acara pesta lampion. Pesta ini diadakan di kawasan candi arjuna. Dimana kawasan yang cukup luas ini, terhampar candi-candi kecil yang cukup indah. Namun sayangnya kawasan ini tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup, sehingga pesta lampion ini tidak cukup terlihat cantik. Padahal saya sudah membayangkan pesta lampion ini terlihat cantik ketika difoto dengan dikelilingi oleh candi-candi yang ciamik. Penerangan yang kurang menyebabkan lokasi candi ini menjadi tidak terlihat.

Pesta lampion ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang mendaftar sebelumnya, dengan membayar penggantian lampion. Peserta pesta lampion ini bersama-sama melepaskan lampionnya. Dan alhasil, langit di dieng plateu ini menjadi indah berwarna-warni karena dipenuhi dengan lampion-lampion.

1001 jam dalam kehidupan bus! (What a disaster journey.but…)

image

Mendapati diri duduk di tengah pada bus yang memiliki formasi kursi 3-2 adalah musibah buat saya.. Iya! Saya pikir duduk ditengah2 pada formasi 3nya bisa saya lewati dengan mudah dan optimis, perjalanan ini akan menyenangkan!.

Melihat penderitaan teman-teman saya yang duduk pada posisi yang tidak nyaman menjadi cerita unik buat kami selama perjalanan ini.

Terkikik, adalah hal pertama buat kami dalam mentertawakan diri kami.. Bayangkan saja, saya duduk di antara dua ibu-ibu rempong yang bawa segambreng kardus.. Bau ketek, bukan lagi maslah buat saya, karena saya bisa sangat memaklumi penuhnya bus membuat air-conditioning tidak mampu mengatasi kegelisahan dan ramainya penumpang bus. Yang paling menjadi masalah terbesar dalam posisi duduk saya adalah seorang Ibu yang memiliki hobi : mengeluh dan cerewet.

Oke! Saya mulai dengan kosakata CEREWET. Kata ini emang tidak asing bagi saya namun, kata ini saya sangat berharap jauh2 dari kehidupan saya saat itu. Sepanjang perjalanan, ibu disebelah kanan saya ini, sebut saja bu Tini, dari awal saya duduk sampai turun bus tidak pernah berhenti bicara. Pembicaraan pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Pak supir..kapan sampai?” Dan kalimat yang terkakhir saya dengar dari mulutnya adalah “Pak supir, ini kapan sampainya?”. Apa perlu saya ceritakan mengapa dia saya sebut cerewet? Semua orang pasti paham pertanyaan yg berulang2 itu sengaja dikeluarkan menandakan ketidaksabaran seseorang dalam memahami situasi yang ada.

Perlu dibayangkan, apa yang saya rasakan setiap menandapati pertanyaan itu tepat didepan telinga kanan saya? Menggila! Iya saya menjadi semakin menggila dan menjadi tidak nyaman. Setiap bu Tini bertanya saya hanya bisa tersenyum. Senyum miring dengan derajat kemiringan 45°, yang berarti kecanggungan dan tidak menyenangkan.

Kosakata kedua selanjutnya adalah MENjGELUH. Kata sifat satu ini adalah sifat negatif yang saya tidak sukai. Mendengar orang mengeluh, sama saja membuat saya membawa beban pikul seberat 100kg. Keluhan yang dikeluarkan itu sebenarnya pun tidak penting untuk dikeluarkan karena bukan hanya menyembuhkan hati yang cemas tetapi malah membuat rasa cemasnya menjadi 100x lipat.

Mendengar bu Tini disebelahku selalu mengeluh seperti kursi sempit, panas, lama, lambat, macet, dan sebagainya itu, sama saja mentransfer energi negatif yang dimiliki bu Tini kepada saya. Ion negatif itu membuat saya menjadi terasa lebih capek!

Perjalanan seolah melambat akibat ketidaknyamanan yang dimiliki satu orang menjadi milik bersama.

Jarak tempuh normal jakarta – wonosobo kurang lebih 12 jam ini, menjadi 2 kali lipat mencapai 24 jam untuk menjangkau Dieng Plateu, lokasi wisata yang saat itu sedang mengadakan festival dieng..

24 jam seperti 1001 jam. Aku mendapat diri saya untuk dipaksa tidur bila ada kesempatan demi menghindari dari keluhan Bu Tini yang super dahsyat!!

Penderitaan saya bukanlah yang terhebat. Teman perjalanan saya delti, dia terpaksa duduk di kursi tambahan disebelah supir persis. Bukan karena kursi tambahannya, tetapi karena dia harus terpaksa menemani si supir mengobrol karena takut si supir mengantuk. Baiknya adalah sifat ramahnya, mampu membuat supir berbincang asik dengannya, sehingga si supir tidak kembali mengantuk. Tetapi ramah itu juga kan  tidak harus dengan cara menemani supir mengobrol semalaman suntuk…

Aaahh… Penderitaaan 24 jam perjalanan itu seperti 1001 jam yang memiliki banyak rasa dan cerita.. Kesal dan tertawa adalah dua hal yang berbeda, namun perjalanan saya ini bisa membuat 2 hal yang bertolak belakang menjadi 1 hal yang terjadi saat bersamaan.

What a disaster journey but… (part.1)

Kami terdampar di terminal bus grogol karena keterlambatan bus.

Kami terdampar di terminal bus grogol tapi kami masih narsis mengabadikannya.

 

Hello travelers yang pada galau dibulan puasa..

Kali ini saya mau menceritakan satu perjalanan yang belum lama ini, saya dan teman-teman saya lakoni demi sebuah kedamaian dan ketenangan jiwa.. #halaaahh…

Travelling kali ini, bisa dikategorikan juga sebagai Blind Travelling saya, saya dan travelers partner saya belum tau daerahnya, lokasinya, kondisinya dan bagaimana menuju kesana. Bicara tentang traveler partner, kali ini saya jalan dengan partner yang totally different dengan sebelumnya. Kalau sebelumnya saya jalan dengan pecinta fotografi, kali ini saya jalan dengan para penderita narsistic akut,hahhaaaa…

Semua bermula dari keinginan saya yang ingin menginjakkan kaki di dataran tinggi Dieng Plateu, saya mencoba mencari traveler partner yang mau menggembel bareng saya menuju kesana karena minimnya budget. Proses mencari teman jalan ini emang terbilang susah-susah gampang. Saya punya pengalaman yang mampu membuat saya menelan ludah karena traveler partner saya secara sepihak membatalkan perjalanannya tanpa ada alasan yang bisa saya maklumi. Singkat cerita, saya diajak oleh seorang teman lama untuk menemani dia travelling ke Green Canyon-Pangandaran, tentunya ajakan ini saya terima tanpa saya pikir panjang karena lokasi wisata Green Canyon menjadi list lokasi wajib yang ingin saya kunjungi di tahun 2013 ini. Namun setelah saya menyiapkan segalanya, baik rute perjalanan, itinerary, book penginapan dan sewa angkot selama disana, tiba-tiba h-3 teman saya kembali menghubungi saya dan membatalkan rencana perjalanannya. Kejadian itu membuat saya sedikit kecewa, tetapi saya mencoba memakluminya dan menjadi pelajaran bagi saya kedepannya.

Setelah cukup lama mencari tahu tentang Dieng Plateu, akhirnya saya mendapatkan nformasi yang cukup menarik banyak traveler termasuk saya yaitu adanya Dieng Festival Culture pada tanggal 20 – 22 Juni 2013. Hal inilah yang menjadi andalan saya untuk mengajak beberapa teman-teman yang ada di contact BB saya, dan akhirnya terkumpullah 6 traveler menjadi satu group.

2 wartawan, 2 pegawai bank asing, 1 pegawai kedutaan italia dan 1 aparatur negara menjadi satu kesatuan yang akhirnya menimbulkan kegilaan. Sebut mereka, bayu, abe, delti, iran, catur dan saya sendiri. Awalnya mereka tidak saling mengenal, dan di hari pertama keberangkatan menjadi hari terburuk dalam sejarah liburan kami. Kami berangkat pukul 20.00 WIB dengan menggunakan bus Dieng Indah yang akan membawa kami ke Banjarnegara. Begitu memasuki bus tersebut, kami kaget bukan main, bukan hal yang nyaman bagi kami, karena kami semua kedapatan kursi tengah yang diapit dengan pengguna bus lainnya yang membawa berjubel bawaan.  Bahkan delti, perempuan mungil yang lincah dan saat ini bekerja di salah satu bank asing, kedapatan duduk di kursi tambahan di sebelah supir, alhasil dia harus menemani supir mengobrol sepanjang hari karena si supir yang bernama dedi mengaku mengantuk. fiuhhhh…

Cerita di dalam bus ini akan menjadi cerita terpanjang bagi kami, karena banyak hal yang benar-benar membuat kami bisa tertawa geli, mentertawakan kebodohan kami sendiri dan mentertawakan kondisi jalanan pantura yang luar biasa menyiksa batin, hahhaaa… (to be continued)

 

My Blind Travelling: Day 5 – 6. It’s All About Semarang (part.5-end)

image

Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Pagi di Semarang, setelah tidur yang cukup. Kami memulai petualangan kami dengan nasi kucing yang seharga 3 ribu, tepat di depan penginapan kami. Setelah kenyang, kami kembali ke penginapan untuk packing barang-barang dan check out.

Namun karena kami masih ingin berkeliling, kami menitipkan ransel-ransel kami pada resepsionis setelah check out dan menyelesaikan administrasinya.

Setelah bertanya-tanya pada orang-orang, kami memutuskan menggunakan bus untuk mengunjungi tempat pertama yaitu lawang sewu. Meski didepan penginapan kami ada becak-becak yang dengan penuh harap agar kami menggunakan jasanya, karena kejadian kemarin kami kapok menggunakan becak.

Kami harus berjalan dulu sekitar 10 menit hingga menemukan jalan pemuda. Setelah menyebrang, kami menaiki bus yang melewati tugu pemuda dengan ongkos 2rb. Sekitar 15 menit, kami turun tepat di depan Lawang Sewu.

image

Dengan membeli tiket 10.000/org, kami sudah bisa menikmati mistisnya lawang sewu. Dan petualangan kami dimulai di gedung tua yang penuh misteri ini. Kami sengaja tidak menggunakan pemandu selama didalam, selain harus membayar 30.000, kami memang sengaja ingin bebas kesana kemari untuk mengambil foto-foto keren untuk di capture.

image

Seribu Pintu di Lawang Sewu

Memasuki lorong-lorong gelap, memang menjadi dilema bagi saya yang sedikit penakut. Bahkan saya dan teman-teman saya sempat terpisah dan berpencar karena autis masing-masing dengan kameranya. Karena suasanya yang memang menyeramkan, saya putuskan untuk kembali bersama rombongan, namun aku sudah kehilangan jejak mereka,huaaaa….

image

Lorong Gelap

Saya seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pasar, saya pun dengan melupakan rasa malu saya, memanggil nama teman saya..tetapi tampaknya saya tidak menemukan mereka. Dan ternyata tiba-tiba ada yang memanggil nama saya “rantiiii……”. Mendengar itu, saya pun langsung tersenyum, i found you guyss……

image

Ruang Bawah Tanah yang Menyeramkan

Kami pun kembali ke dalam rombongan dan memulai dengan ke autisan kami dengan kamera. Tapi kali ini saya tidak mau jauh-jauh dari mereka. Setelah puas menikmati horornya lawang sewu, kami beristirahat dan berpikir mau kemana lagi ya sekarang?

Setelah browsing-browsing di internet, kami memutuskan ke klenteng Sam Poo Kong. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Lawang Sewu, butuh waktu 30 menit kesana dengan menggunakan bus umum. Setelah banyak bertanya, kami turun di depan Rumah Sakit dan nyambung dengan mikrolet, tidak lama kami turun dan kami harus berjalan kaki selama 10 menit hingga menemukan bangunan klenteng yang berwarna merah itu.

Sesampainya disana, kami tidak membuang waktu kami. Dengan membayar 10.000/tiket, kami bisa masuk dan menikmati keindahan bangunan khas china beserta ukiran-ukiran, patung para dewa dewi.  Kamera kami adalah barang penting bagi kami untuk mengabadikan bangunan-bangunan yang memang ciamik ini.

image

image

Setelah puas, kami memutuskan untuk ke Kota Lama Semarang. Namun karena letaknya yang tidak jauh dari penginapan kami, kami putuskan untuk kembali ke penginapan untuk membawa serta ransel kami. Setelah membawa ransel, kami menuju ke kota lama dengan menggunakan becak dengan biaya 10rb.

Sesampainya di Kota Lama, kami segera berkeliling. Kota Lama ini tidak jauh berbeda dengan Kota Tua milik Jakarta. Gereja Blenduk adalah bangunan yang paling penting bagi para traveler untuk mengunjunginya di Kota Lama. Bangunan khas Belanda dan sengaja tetap dipertahankan keaslian bentuknya ini, memang membuat kami berdecak kagum.

image

Gereja Blenduk, Kota Lama

image

Setelah kelelahan dan waktunya sudah semakin sore, kami memutuskan untuk ke terminal bus dan mengejar bus ke Jakarta yang jam 7 malam. Sesampainya di terminal, kami kebingungan seperti orang bego. Karena kami tidak menemukan bus jurusan Jakarta, yang kami temukan hanya bus jurusan Jawa. Setelah bantuan dari pedagang minuman di terminal, kami ditawarkan tiket bus ke Jakarta sebesar 125.000. Kami sebenarnya mengetahui, kalau mereka adalah calo dan menyadari kalau harga tiketnya sudah di mark up oleh mereka.

Sekitar pukul 17.30 kami diantarkan dengan motor menuju ke pool bus yang menuju ke Jakarta. Dengan kaget, kami pun melihat kalau harga tiket aslinya hanya Rp 65.000 saja. Artinya kami rugi 60.000 tiap orang. Huaaaaaahh… Saya pun mendumel kepada teman-teman saya dan mengomel-ngomel tidak jelas.huhuhuuu… Kali ini kami rugi lagi..

Tepat pukul 19.30, bus kami tiba dan kami kebagian tempat duduk yang berjejer untungnya. Melihat penumpang lainnya, kami sadari kalau mereka kebanyakan adalah pedagang dan para kuli. Kami terkikik melihatnya, pengalaman seruu memang. Selain kondisinya ribut, mereka tampak lusuh seperti habis dalam perjalanan panjang. Dan tanpa mengindahkannya kembali, kami pun tertidur di dalam bus. Sekitar jam 9 pagi, kami pun sampai di Jakarta dan berpisah di cempaka putih. Dan inilah akhir cerita kami, travelling bersama traveler yang sama-sama bego dan tidak tahu arah tetapi tetep sok keren. Terimakasih traveler partner atas liburannya. Semoga kedepannya kita bisa berkumpul dan menikmati liburan bersama lagi.. I love you guys for this blind travelling… 🙂 🙂 🙂

-The End-

My Blind Travelling: Day 4. Jepara here we come!!! (Part.4)

image

Good Bye Karimun Jawa...

Masuk hari ke-4 liburan, kami kami menuju ke pelabuhan karimun jawa untuk menyebrang ke Jepara. Untuk penyebrangan di hari Minggu, dijadwalkan penyebrangan jam 10.30 dengan kapal cepat express cantika 89.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami tiba di pelabuhan kartini jepara. Siang, tepat pukul 13.00 WIB, kami beristirahat di salah satu kantin dan mencari masjid terdekat dengan pelabuhan. Tak di sangka di sebelah persis pelabuhan kartini ini ada sebuah tempat wisata bernama Pantai Kartini.

image

Dengan membayar tiket masuk Rp 5000, kami sudah bisa menikmati pantai kartini. Pantai disini memang tidak seindah pantai-pantai di karimin jawa. Tempatnya yang kurang terawat dan kurang bersih, membuat minus tempat wisata ini.lup Ketidakbersihan pantai juga disebabkan para pengunjung yang tidak aware terhadap “Buang Sampah Pada Tempatnya”.

image

Lupakan sejenak tentang kesadaran orang ttg sampah, saya menelusuri pantai ini dengan traveler partner saya. Saya menemukan spot-spot terkeren untuk menikmati keindahan pantai di sepanjang jembatan, dimana di tengah-tengahnya terdapat gazebo untuk berteduh sekedar menikmati pantai.

image

Setelah cukup lama menikmati pantai di salah satu gazebo diatas jembatan itu, kami kembali menelusuri tempat wisata tersebut. Setelah menyebrang di jembatan, kami melewati pertokoan yang menjual oleh-oleh khas jepara atau pernak pernik dari kerang yang lucu-lucu. Namun saat itu adalah travelling saja, maka saya tidak membelinya, saya hanya sekedar melihat dan mengcapture barang-barang yang lucu.

image

image

Setelah melewati pertokoan, di samping kanan kami ada sebuah taman dan terdapat patung pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Patung ini menandakan bahwa kota Jepara adalah kota kelahiran RA Kartini.

image

Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami segera mencari becak untuk membawa kami ke terminal bus Jepara. Letak stasiun sekitar 15 menit perjalanan, sepanjang jalan kami menikmati kota Jepara yang sepi namun tertata rapih.

Tiba di terminal, kami pun berpikir apakah kami langsung kembali ke Jakarta atau menjelajah di kota lain? Mengingat sisa libur saya masih 2 hari lagi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Semarang.

Bus Jepara – Semarang yang non- AC ini cukup murah, dengan perjalanan lebih dari 2 jam, kami cukup membayar 15 ribu saja. Jangan terlewatkan pemandangan di sepanjang perjalanan, karena kami melihat suasana desa yang sederhana dengan hamparan sawah-sawah yang hijau kekuningan.

Resiko naik bus yang non-AC ini adalah kami di oper ke bus lain yang menuju Semarang. Awalnya kami bisa duduk manis, dan sekarang kami harus menikmati berdiri dengan membawa gembolan ransel. Phiuuufffhh…butuh waktu setengah jam lebih setelah kami dioper ke bus lain hingga kami tiba di terminal bus Semarang.

Hari ini cukup lelah buat kami, dan kami segera mencari angkutan yang dapat membawa kami ke penginapan murah. Setelah browsing, para backpacker direkomendasikan ke Jl. Imam Bonjol untuk mendapatkan hotel-hotel melati yang murah. Setelah naik mikrolet sekali, kamu naik becak dan ternyata hotel rahayu yang direkomendasikan di blog awalnya 50rb, sekarang menjadi 90rb.

Tiba-tiba abang becak menawarkan penginapan murah sekitar 40rb, namun setelah kesana setiap penginapan murah itu penuh semua. Dan bahkan ada penginapan yang diatas 200rb. Kayaknya abang becak ini membawa kami muter-muter deh, pikirku. Awalnya untuk mencapai ke imam bonjol hanya 15rb, karena muter-muter kami harus membayar 30rb. Waahh kami ditipuuuuu…. Dan akhirnya kami kembali ke hotel rahayu. Karena kami lama muter, kami kehilangan kamar 90rb dan kami mendapatkan kamar 100rb. Huaaaa.. Kami rugi banyakkk….

Namun kejadian ini membuat kami ketawa, benar2 pengalaman nyasar-nyasar dan ditipuu… Hari itu kami lelah sekali, akhirnya setelah makan malam, kami segera tidur. Karena besok seharian kami akan berkeliling Semarang, sebelum kami kembali ke Jakarta di sore harinya. (Continued)

My Blind Travelling : Day 3. The Real of Karimun Jawa (Part.3)

image

The Beautiful of Karimun Jawa, Indonesia
(doc. Ranti)

Sabtu pagi itu (16/3), kami sudah bersiap-siap dan berkumpul di alun-alun Karimun Jawa yang letaknya berdekatan dengan dermaga Karimun Jawa untuk menyebrang ke pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Tepat pukul 08.00 WIB, kami janjian dengan Mas Anto, pemilik perahu yang memiliki paket penyebrangan dan trip di kepulauan Karimun Jawa. Setelah bertemu, kami berkumpul dengan 11 orang yang kebetulan datang dari Jakarta. Kami yang cuma bertiga ini join dengan 11 wisatawan agar meringankan biaya perahu dan tour nya, dan kami hanya membayar Rp 100.000/orang include makan siang, perlengkapan snorkeling dan foto underwater.

image

Diatas Perahu
(Doc. Ranti)

Beruntungnya, rombongan yang berjumlah 11 orang itu berusia sama dengan kami, jadi kami bisa cepat berbaur. Awalnya kami sempat berpikir jangan-jangan kami satu perahu dengan ibu-ibu rempong atau abege muda yang alay, pasti tripnya jadi ga asik,hheee…

Setelah berkenalan, kami pun mulai dibagikan pelampung dan perlengapan snorkeling oleh nahkoda perahunya. Oya, jangan minta saya menyebutkan nama masing-masing di rombongan itu, saya paling lemah dalam hal mengingat nama,hhehee…

Di atas perahu, kami mulai menyusuri lautan jawa yang memiliki ombak tenang, menuju tempat pertama yaitu Gosong Seloka. Gosong seloka ini tempat terunik yang pernah aku temui, dia terletak diantara lautan dan memiliki kedalaman yang dangkal. Jadi seperti kolam kecil di antara kolam yang besar. Luasnya pun tidak terlalu luas, memiliki kedalaman yang lebih dangkal daripada lautan yang di sekelilingnya. Airnya cukup bening dan kaki pun bisa menapak pasir di dalamnya, untuk tinggi badan saya yang cuma 156 cm, kedalamannya setinggi dada saya.

Pulau yang tanpa batu-batu karang ini memang dijadikan tempat para wisatawan untuk belajar snorkeling dan diving, dan penting sekali buat pemula seperti saya yang tidak bisa berenang. Setelah cukup mengenal dan beradaptasi dengan perlengkapan snorkeling, akhirnya kami berangkat menuju Pulau Kecil. Spot di Pulau Kecil merupakan spot pertama untuk kami ber-snorkeling. Yipiieeee… saya seperti anak kecil yang kegirangan, belum apa-apa sudah minta difoto,hhahaha…

image

Snorkeling Time!!!
(Doc. Ranti)

Awal loncat ke lautan, perasaan saya begitu dag dig dug, tetapi saya yakin dengan perlengkapan yang sudah saya pakai ini aman dan meyakinkan. Pluuuungg,,, saya pun menyemplung, dan begitu melihat ke dalam laut, hal pertama yang saya ucapkan adalah “Subhanallah…”. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang ada dalam pandangan saya hanya keindahan di bawah laut yang memang tidak pernah kita temui setiap saat apalagi di Ibukota Jakarta.

Jajaran batu-batu karang yang hidup memberikan tempat tinggal bagi para ikan dan coral-coral berwarna-warni yang cantik dan beberapa ikan-ikan kecil menggodaku untuk menangkapnya, tapi ternyata tidak bisa karena saya menggunakan pelampung.

image

Pulau Tengah, Karimun Jawa
(Doc. Ranti)

Setelah puas dengan bersnorkeling, perahu membawa kami menuju Pulau Tengah untuk menikmati santap siang. Makanan yang disajikan bukanlah makanan mewah, tetapi ikan-ikan segar yang telah dibumbui sederhana dengan menggunakan kayu-kayu bakar. Rasanya sungguh LEZAToooozzzz…..!! Pulau Tengah ini memang sengaja digunakan para wisatawan untuk beristirahat setelah puas bersnorkeling atau diving. Di pulau ini memiliki keindahan pantai yang sungguh memukau, selain memang alami, air pantai yang bersih dan jernih mampu membius saya.

image

Bakar-Bakar Ikan-Ikan Laut yang Colourful..
(Doc. Ranti)

Perjalanan kami pun dilanjutkan ke Ujung Gua untuk bersnorkeling kembali, kedalaman laut disini lebih dalam dari Pulau Kecil sebelumnya dan memiliki keindahan yang lebih membius saya yang memang terbilang pertama melihat biota bawah laut. Selain ikan-ikan yang berwana-warni, coral-coral disana lebih beraneka ragam bentuknya. Sayangnya saya tidak membawa kamera underwater untuk mengabadikan keindahan bawah laut, huhuhuuu..

Setelah lama di dalam air laut, kulit dan wajahku menjadi terbakar dan terasa perih saat terkena air laut, akhirnya saya dengan berat hati kembali ke atas perahu dan menunggu para rombongan puas bersnorkeling. Tidak lama, kami dibawa ke Menjangan besar untuk menemui para baby hiu yang telah menunggu kami untuk berenang bersama. Menjangan Besar terkenal dengan penangkaran hiu-nya, dimana di beberapa tempat menawarkan wisata hiu. Wisata hiu ini untuk menguji nyali kita berenang bersama mereka.

Awalnya saya takut, namun setelah melihat beberapa pendatang sebelumnya tidak apa-apa, akhirnya saya memberanikan diri turun ke kolam yang telah penuh dengan hiu-hiu itu. Untuk turun ke kolam hiu itu, kami dikenakan biaya Rp 5000 saja dan kami sudah bisa berfoto dengan para hiu tersebut. Sayangnya saya tidak boleh memegang mereka, mungkin karena takut hiu-hiu tersebut menjadi lebih agresif,hhee..

image

Me with Baby Shark, wuhuuuuu….
(Doc. Ranti)

image

Saya Berenang Bersama Hiu dengan Senyum Palsu :p
(Doc. Ranti)

Setelah dari penangkaran hiu, kami memburu sunset di tengah-tengah lautan yang telah disiapkan bangunan-bangunan kecil dari kayu yang telah disiapkan untuk para wisatawan untuk memburu sunset. Memburu sunset berarti saatnya saya menggunakan kamera mirrorless saya dan mengcapture keindahan sunset diatas lautan. Huaaaaaa..amazing!! Tidak lupa, satu rombongan yang berjumlah 14 orang ini mengabadikan foto bersama dengan background sunset yang indah.

image

Sunset Time
(Doc. Ranti)

image

Mengcapture Sunset diatas lautan.
(Doc. Ranti)

image

Peace….!!!
(Doc. Ranti)

Trip kami pun selesai dan kami kembali ke penginapan kami masing-masing. Hari ini benar-benar menyenangkan sekali dan saya bisa menikmati Karimun Jawa sesungguhnya, kekecewaan kami kemarin akhirnya terobati. I Love Karimun Jawa.