Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for Life is Hard but Happy

I Live in Empty Soul

Seperti hati yang terpenjara dan tubuh harus tersenyum di depan semua orang

Seperti hati yang terpenjara dan tubuh harus tersenyum di depan semua orang

 

Tubuh tanpa jiwa itu adalah seperti saya akhir-akhir ini. Saya bergerak tanpa jiwa, saya hanya menjalani rutinitas tanpa ada “passion” dan “feeling”. Pernah saya mengetik di kantor, tanpa ekspresi tapi air mata jatuh tanpa sebab. Pernah saya berjalan dan menyebrang jalan tanpa rasa hati-hati.  Setiap malam terbangun tepat pukul 02.00 dini hari karena mimpi-mimpi buruk, dan ketika terbangun mata saya sudah basah karena menangis dan saya tidak ingat mimpi itu bercerita tentang apa. Saya bahkan menjadi robot, dimana tubuh saya bergerak tanpa henti tetapi tanpa perasaan.

Saya tidak tahu penyakit apa yang menyerang tubuh saya ini. Saya mencoba bertanya “mbah google”, tetapi tidak ada gejala-gejala penyakit seperti ini. Namun ada sebuah artikel yang mengatakan ini merupakan penyakit hati. Tubuh tidak dapat mengikuti hati, karena otak mencuri peran pemimpin dan mengalahkan hati. Otak memberikan perintah untuk menghindar dan tak mengindahkan kata hati. Otak meminta tubuh untuk memproteksi diri untuk bersikap “dingin”.

Namun ketika tubuh bekerja dengan pimpinan otak, dan peran hati dihilangkan, maka akan ada ketidaksesuaian dalam pribadi seseorang. Apa yang dia kerjakan tidak membuatnya bahagia atau bersemangat, tetapi bahkan bisa mengeluarkan air mata. Mungkin saat itu hati ingin berteriak, menuntut agar suaranya dapat didengar dan diperhatikan.

Saat ini yang saya butuhkan adalah waktu yang sangat panjang untuk menghilangkan diri dari rutinitas dan kegiatan yang mampu mengingatkan saya pada berbagai masalah yang saya hadapi. Terkadang saya ingin merasa amnesia dan terlahir sebagai manusia yang baru dan hidup di lingkungan baru. Namun bila saya memilih keadaan itu, hanya akan membuat saya menjadi tidak dewasa.

Hard Rain and Many Moments included

 

6 Februari kemarin, setelah menyelesaikan pekerjaan sore itu di DPR, sekembalinya aq ke kantor yang terletak di bilangan Monas, nyatanya aq terjebak hujan yang sangat deras dan disertai dengan angin badai. Untungnya saat itu aq menebeng salah satu rekan kerja yang kebetulan bersama menyelesaikan pekerjaan di DPR.

Butuh waktu lebih dari 1 jam dari Senayan – Monas. Padahal saat itu jalanan cukup lancar dan terbilang sepi, namun tiap mobil tampaknya berjalan sangat pelan, karena hujan deras di Jakarta saat itu.  Jarak pandang mobil menjadi sangat pendek, kami tidak mampu menjangkau penglihatan keluar karena hujan badai saat itu.  I called it as hard rain.

Namun setibanya di Kantor, aq hanya kembali keruangan untuk mengembalikan beberapa peralatan kantor dan siap-siap untuk pulang kerumah. Berharap dengan masih hujan, jalanan tidak menjadi macet. Persiapan saat itu, sebuah jaket dan sebuah payung panjang yang kokoh.

Atasanku memberikan tumpangan saat itu, dan aq diturunkan di tanah abang. Kebetulan dari sana, aq bisa sekali naik kopaja yang lewat depan jalan rumahku. Beruntungnya, tidak lama menunggu, aq bisa mendapatkan kursi di kopaja itu. I feel so gratefull. Berharap tidak menikmati kemacetan yang berarti, namun kali ini prediksiku salah.

1 jam berlalu, dan kuputuskan untuk tiduran sebentar, 2 jam berlalu, kubuka mata dan ternyataa… aku masih di Bank Indonesia..

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.15, aku putuskan untuk turun dan berjalan kaki. Maksud hati, berjalan kaki hingga menemukan mushola untuk shalat Maghrib, ternyata jalanan penuh dengan air hingga semata kaki. Dan aku berpikir, pakaian aku sudah tidak bersih lagi untuk shalat. Kuteruskan saja, untuk berjalan kaki.

Lucunya saat berjalan kaki itu, aku bisa melihat ekspresi wajah orang-orang yang sedang stress. Selain itu, polisi yang sengaja bersembunyi di pos-posnya masing-masing karena lalu lintas sudah tidak mampu diatur kembali.  Semua kendaraan baik mobil dan motor saling ber-klakson dan tidak mau mengalah. Tukang-tukang ojek yang berjajar menawarkan para pejalan kaki seperti aku untuk membeli jasanya. Hampir terpengaruh dengan tawarannya, namun setelah melihat kembali jalanan di daerah kebon sirih yang tidak bergerak sama sekali, akhirnya aku pun menggeleng kepada para tukang ojek yang sudah sangat berharap banyak. Kuputuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan pulangku dengan berjalan kaki.

Yang menarik lagi, trotoar yang tidak lagi menjadi hak pejalan kaki telah dicuri sepenuhnya oleh pengendara motor. Alhasil, pejalan kaki pun menjadi macet. Memaki-maki deh akhirnya di dalam hati.  Menunggu antrian motor selesai, akhirnya pejalan kaki bisa berjalan kembali. Fiuhh….

Banyaknya pemandangan di perjalanan pulang itu sangat menyenangkan, aq selalu melihat kanan kiri merekam apa yang ada. Sayangnya, saat itu smartphoneku sedang off karena lowbat, jadi aq tidak bisa mengambil gambar-gambar menarik itu saat hujan.

Gak kerasa perjalanan pulangku itu telah mencapai Cikini. Sebenarnya jalanan di Cikini sudah sepi dan lancar, tapi aku masih memutuskan berjalan kaki saja. Tidak lama, di depanku berjalan pasangan lucu sekali, mereka menggunakan payung kecil yang menurutku itu hanya cukup untuk satu orang aja atau aq sebut “Payung Egois”. Dan untuk mengantisipasi kena hujan, mereka berjalan dengan berpelukan. Melihatnya sih aku hanya senyum-senyum simpul, karena kelihatan sekali mereka sangat tidak nyaman dengan hal itu dan terpaksa tertawa untuk menutupi rasa malunya.  “Menurutku itu romantis loh”, kalimat itu ingin aku sampaikan ke pasangan tersebut untuk mengurangi ketidaknyamanan mereka.

Mengingat pasangan tersebut, aku pun berpikir, mereka pasti pasangan baru yang masih malu-malu. Kejadian unik memang, dan tak kerasa sudah hampir satu jam aku berjalan, dan rumahku sudah di depan mata. Alhamdulillah akhirnya sampai juga..

Begitulah ceritaku di malam itu,yang penuh peristiwa di dalamnya, dan aku tidak menyesal berjalan kaki malam itu karena dengan berjalan kaki aku tidak kehilangan moments yang menarik dan ini menyenangkan!!

Saya ingin Menjadi Fatimah Az Zahra

 

(taken from evanzip.blogspot.com)

(taken from evanzip.blogspot.com)

 

 

Seorang teman memberikan aku cerita. Bila menjadi seorang isteri maka contohlah Fatimah Az Zahra, puteri dari seorang Rasullullah. Beliau adalah anak Rasul yang memiliki sifat persis seperti ayahnya.

Dari beberapa sahabat Rasul yang melamarnya, dari Abu Bakar hingga Umar, Rasul menolaknya dengan cara halus. Hingga Ali Bin Abi Thalib datang melamar Fatimah, padahal dirinya sadar bahwa dia adalah lelaki yang sangat miskin dan yang menjadi hartanya adalah sebilah pedang dan baju besi yang melekat pada dirinya ketika perang.

Namun setelah Ali, seorang prajurit utama Islam ini memberanikan diri meminang Fatimah dan akhirnya disetujui oleh Rasul, maka dijuallah baju besinya menjadi mahar dan persiapan pernikahannya yang sangat sederhana itu.

Meski Ali adalah lelaki yang miskin, tetapi Fatimah tetap mendampinginya. Dia berusaha sendiri untuk memberikan makan untuk anak-anaknya dengan mengambil air di sungai yang letaknya jauh dan menumbuh gandum hingga kedua tangannya terluka. Bahkan dia harus berpuasa berhari-hari karena kemiskinan yang melanda. Meskipun begitu, Fatimah tidak mau mengeluh dan memint abantuan kepada ayahnya, Nabi Muhammad SAW.  Selain itu ketika Ali pergi berperang, Fatimah tetap menunggu dan menganggap itulah saat-saat dimana Fatimah dapat mendekatkan diri dengan Allah SWT dan anak-anaknya dan dia tetap sabar menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib, suaminya yang sangat dia hormati.

Kemarin Saya Menjadi Hakim Agung

Image

(taken from http://www.hit.ro)

 

 

Sidang yang sudah tertunda dua tahun itu akhirnya bisa diselesaikan di hari Minggu kemarin (27/01). Sidang ini mengalami penundaan karena si hakim Agung masih memberikan kesempatan kepada tertuduh untuk memberikan kesaksian-kesaksian sesuai dengan bukti tindakan dan juga pernyataan.

Kesaksian di tahun pertama, ditujukan olehnya dengan pernyataan janji -janji akan menyelesaikan kasusnya di tahun depan di depan keluarganya dan juga di depan Hakim Agung. Kesaksian di tahun kedua pun masih dipenuhi dengan janji-janji saja di depan Hakim Agung tanpa di ikuti oleh tindakan untuk memperbaikinya, tidak ada step forward dari tertuduh untuk membersihkan dirinya dari segala tuduhan yang melekat di dirinya.

Hakim Agung ini akhirnya memberikan 1 bulan perpanjangan di tahun ketiganya. Sang tertuduh akhirnya memberikan bukti selembar tiket pesawat sebagai jalan terakhir untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Hakim Agung mengangguk dan mencoba menunda kembali sidang keputusannya di hari terakhir Januari.

Tiba waktunya sang Hakim Agung menunggu pembuktian dari kesaksian tindakan tertuduh dengan membuktikan bahwa sang tertuduh tidaklah bersalah. Karena di dalam hati si Hakim Agung, sangat berharap kalau sang tertuduh tidak bersalah dan membuktikan kebenaran dari janji-janjinya selama ini.

Hingga hari terakhir, tak kunjung datang pembuktian dari janji-janjinya, dan akhirnya di malam hari terakhir, si Hakim Agung dengan berat hati menggelar Sidang Keputusannya. Suasananya mencekam, bercampur kesedihan, kemarahan dan kebohongan, tiba akhirnya si Hakim Agung memberikan keputusan terakhirnya dan menyatakan bahwa…. “Berdasarkan pada fakta-fakta yang ada, tertuduh tidak mampu membuktikan janji-janjinya dengan kebenaran. Dengan berat hati, saya selaku Hakim Agung menyatakan bahwa tertuduh BERSALAH”

“Tuhan Jawab Doa Kita”

“Tuhan selalu menjawab doa-doa kita melalui inspirasi, ide, dan mimpi”

Pernah kita menyalahkan Tuhan karena doa-doa yang kita sampaikan tidak kunjung mendapatkan jawabannya. Namun ternyata semua itu hanya pribadi kita yang mengingkari, padahal Tuhan telah menyampaikan jawabannya melalui mimpi, inspirasi dan ide. Namun dengan keegoisan kita, kita menganggap bahwa semua itu muncul karena kebetulan, bahkan pernah kita menganggap ide dan inspirasi muncul karena usaha kita sendiri.

Menyadari, Tuhan ikut campur dan punya peran penting dalam kehidupan kita sehingga semua doa dan keinginan kita yang disampaikan melalui doa, telah terjawab oleh-Nya. Jadi bersyukurlah dan jangan pernah menyalahkan Tuhan.

Have a nice Tuesday!! 🙂