Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

2 Manusia 2 Planet (part.2)

image

Tanda cinta ini akan rapuh dimakan waktu

Inilah memory-ku yang dibantu dengan sesak oleh neuron-neuron tua yang tampak kusut…

Aku, aku adalah perempuan tanggung berumur kurang setahun dari angka 30 yang baru saja patah hati..anggaplah kalau aku seperti remaja belasan tahun yang baru saja ditinggal pacarnya. Seminggu aku di kamar merenung dan berdialog dengan diri, apakah ada yang salah denganku hingga dia begitu saja meninggalkanku bersama rencana pernikahan yang sudah matang 70%?

Berdialog dengan diri itu ternyata tidak memberikan hasil nyata, aku kembali bertanya pada Tuhan, apakah benar aku adalah sosok perempuan manja yang tidak bisa dibanggakan laki-laki untuk ku dampingi? Miris, aku seperti alien yang terdampar di planet yang letaknya berjuta2 tahun cahaya dari bumi, bahkan membuatku hilang ingatan akan jati diriku sendiri..

Seminggu itu, aku melupakan pekerjaan, pertemanan, bahkan keluarga. Penyakit autis menjangkitiku, meski banyak dari rekan kerja dan keluarga yang prihatin mencoba berkomunikasi langsung dengan aku yang sedang kacau, tetap saja aku seperti mayat hidup saat berhadapan dengan mereka.

Minggu yang berat, tetapi aku tidak mau smakin larut akan kesedihan dan rasa malu yang berlebihan ini. Meski jantung terus berdegub kencang menolak sendi dan otot antagonis bekerja pada kaki untuk keluar dari rumah. Bahkan seketika semua pergerakan menjadi diam mematung, sinartrosis yang mengagumkan pikirku.

Namun logika menjalar ke dalam tubuh, seakan mmberitahu kalau hidup jangan disia-siakan karena sebuah peristiwa patah hati. Mungkin diluar sana telah menunggu pangeran berkuda putih yang siap menjemputku dan mengantarkanku ke pintu kebahagiaan.

Optimis! Kata yang begitu saja keluar hari itu dalam pikiranku. Seperti merasuki tubuh dan membuat aku menjadi perempuan yang baru. Dan inilah harapan dan janjiku pada Tuhan melalui dialogku semalam dengan Tuhan untuk selalu bahagia atas ujian yang aku hadapi ini.

Dialog dengan Tuhan, memang membantuku menjadi perempuan yang kembali optimis.. Entahlah setelah bangun tidur, hati yang kemarin hancur sedikit sedikit menguat.

image

sinar pagi itu keemasan tetapi langit sangat gelap

Pagi ini, sinar matahari pagi yang cenderung keemasan, terefleksikan melalui cermin yang tepat berdiri dihadapan tempatku merebahkan diri, mengetuk2 kantung mata yang sengaja aku paksa tutup untuk menutupi diriku agar aku tidak bercermin. Kalau aku gambarkan, mgkn mataku sudah seperti bola kasti ukuran medium yang berwarna merah dan berair. Uhh… Aku malu melihat diriku yang tampak bodoh ini. Segera saja aku mengambil balok2 es dan aku kumpulkan menjadi satu di sapu tangan, dan kutempelkan di kedua mataku.

Sekitar 15 menit, aku merasakan mati rasa pada mataku, dan kulihat mataku sedikit membaik. Oke! Hari ini aku harus berjalan2, entah kemana nanti bus akan membawaku. Yang terpenting aku harus mengalihkan rasa sakit yang terus menggerus di dada ini.

Hari itu, aku keluar dengan pakaian modis yang sempat kutunda karena akan kugunakan sebagai seserahanku nanti. Dengan polesan make up natural tapi mencerahkan, aku mampu menyamarkan mataku yang sembab ini. Untuk menutupinya kembali, aku menggunakan kacamataku yang memiliki frame agak besar, karena frame besar akan menyamarkan mata yang sipit. 😦

Langkahku hari itu entah mengapa begitu positif. Udara jakarta yang dahulu seperti udara kering gersang dan bercampur debu2 polusi itu sekarang seperti udara di pegunungan yang begitu bersih dan menyegarkan, rasanya tubuhku ini menjadi segar begitu keluar dari pintu rumahku.

Tanpa arah, aku pun berjalan menuju halte terdekat. Kuputuskan aku akan menaiki bus yang pertama kali berhenti di depanku, dan aku akan turun di terminal terakhirnya. Ide gila pikirku, tapi aku ingin melakukan kegilaan ini lagi, terakhir kulakukan kegilaanku ini adalah saat aku SMA bersama sahabatku yang entah kemana.

Berdiri sekitar 10 menit, akhirnya ada bus berhenti di depanku dengan jurusan Kp. Rambutan – Bandung. Umm…agak sedikit ragu untuk masuk karena ternyata arahnya cukup jauh, tapi akhirnya aku beranikan diri untuk naik. Untungnya aku mendapatkan posisi duduk yang cukup nyaman, di dekat jendela sehingga aku bisa menikmati perjalanan gilaku hari ini.

Tiba-tiba aku sadar, aku hanya membawa tas berisi dompet, hp dan mukena. Aku pun tidak membawa pakaian ganti, kalau2 saja aku kemalaman pulangnya. Kubuang saja pikiranku itu sejenak dan kembali menikmati perjalanan ibukota yang selalu sama kondisinya setiap hari.

Macet, penuh, berantakan  dan panas.
Empat kata ini bisa saja sama dengan apa yang kurasakan beberapa hari yang lalu. Pria yang menjadi tunanganku, Fredd, mendatangiku pada sabtu malam. Seperti biasa Fredd datang dengan setelan kemeja yang dilapisi sweater abu-abu favoritnya dan celana jeans warna hitam.

Tanpa prasangka apapun, dia mendatangiku dan mengajakku untuk menemaninya makan seafood kesukaannya di kawasan tebet. Aku pun bergegas berganti pakaian dan menemaninya malam itu. Semula semua berjalan seperti biasanya, aku pun melahap sisa-sisa kepiting saos padang yang menjadi favoritku di tempat itu. Tiba-tiba Fredd membuka pembicaraan malam itu dan aku pun berhenti menikmati bagian terakhir kepitingku. Kami berdua memiliki kebiasaan, apabila ada diantara kami berbicara maka kami akan fokus pada pembicaraan itu, karena kami berkomitmen akan menciptakan komunikasi yang efektif dan komunikasi yang berkualitas. Karena memang waktu kami tidaklah banyak untuk selalu bertemu dan berbincang. Kami dipisahkan oleh benua, aku di Asia dan dia di Eropa, aku di Indonesia dan dia di Paris.

Malam itu, dia hanya berkata sedikit sekali. Satu kalimat dengan satu tarikan nafas dan dengan senyuman sedikit bergetar, dia berkata “kita batalkan saja rencana pernikahan ini, kurasa kita tidak akan berhasil”.

Mendengar kalimat pendek itu rasanya tiba2 saja cuaca malam itu menjadi penuh petir, kilat saling menyambar di telingaku, dan badai bergerumuh di dadaku. Saat itu aku tidak mampu berkata-kata, gesture tubuhku saja tak mampu kukeluarkan apalagi suaraku.

Mungkin saat itu, aku tiba2 mematung dan tak tak bergerak. Bibir terkunci rapat. Aku layaknya boneka kayu yang digerakkan oleh Fredd malam itu, dan menggiringku pulang saat itu juga. Bahkan teh panas yang kupesan  dan belum sempat kusentuh itu, mungkin telah menjadi beku, sebeku hatiku malam itu.

Suara klakson bergerumuh membuyarkan lamunanku saat itu, aku kembali tersadar dan menghela nafas dengan berat saat memoryku kembali mengingat Fredd. Tak terasa aku pun sampai di Bandung. Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki ke cihampelas siang itu. Dan lagi-lagi, aku terlalu kikuk hingga menabrak seorang laki-laki muda dengan tinggi lebih dari 175 cm.

“Hai..” Kata yang pertama keluar dari laki-laki itu dan aku malah terdiam tak mengucapkan “maaf”.

Advertisements

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: