Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for September, 2013

Menapaki Syukur dari Allah Melalui Gunung Sikunir, Dieng Plateu (What a disaster journey, but..)

Image

Pagi-pagi buta, kamar kami sudah dipenuhi dengan hiruk pikuk untuk persiapan tracking ke Gunung Sikunir, Dieng, Banjarnegara. Yes!! Ini kali pertama bagi saya memulai perjalanan menuju gunung dan chasing the sunrise. Excited! Saya yang telah lama mempersiapkan berbagai peralatan tempur seperti jaket super tebal dan anti air, sarung tangan, syal, kaos kaki dan sendal gunung itu cukup dikatakan berlebihan. Saya seperti mentertawakan diri sendiri, karena teman-teman seperjalanan saya cukup simple mempersiapkan semuanya..hahhahaa.. But anyway, pukul 03.00 WIB memang sangat dingin, ketika saya tanyakan kepada pak didiek (guide kami), “Pagi ini cukup dingin mbak, karena semalam habis hujan, ini bisa mencapai -5 derajat”. Waahh… saya buru-buru menambahkan dalaman jaket biasa sebagai sumpelan agar hangat.

Jam 03.30 WIB, kami tiba di gerbang Gunung Sikunir. Saat itu, di pelataran parkir sudah banyak rombongan yang berkumpul untuk memulai tracking ke atas. Bisa dipastikan 90% adalah rentang usia 15 – 30 tahun, usia-usia dimana travelling menjadi jiwa sekaligus candu bagi mereka, termasuk saya. Yap! kami pun siap memulai tracking pagi ini, tetapi ketika akan mau berjalan, kami menyadari satu kesalahan, kami tidak mempersiapkan senter!! Kondisinya adalah gelap gulita, dan jarak pandang tidak mampu menembus jalanan. Kami mulai panik, untungnya ada ibu-ibu penjual makanan yang menawarkan diri, “ayo mbak bareng-bareng saya saja..”. Tampaknya semuanya kembali lancaaarr….

Menapaki satu demi satu track gunung itu, cukup melelahkan. Cuaca yang minus derajat tersebut, membuat nafas kami menjadi pendek. Saya pun yang memiliki record asma, tiba-tiba saja mulai sesak nafas. Tetapi saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu pedagang itu, mereka membawa beban yang cukup berat di pundak dan punggungnya tetapi tidak mengeluh. Bahkan kecepatan berjalan mereka cukup stabil. Padahal bisa dibilang umur mereka diatas 50 tahun, mendaki gunung ini sepertinya menjadi makanan mereka sehari-hari. Melihat mereka menjadi motivasi bagi saya, bahkan saya pun menjadi yang pertama sampai di puncak gunung di rombongan saya.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak Gunung Sikunir, memang tidak terlalu tinggi karena Dieng sendiri sudah pada dataran tinggi. Ketika mencapai puncak, tepat pukul 04.30 WIB, suasana masih remang-remang gelap dan penuh kabut tebal. Adzan pun berkumandang, lagi-lagi saya kelupaan membawa mukena. Setelah celingak celinguk, saya mendapati ada dari rombongan lain sedang beribadah dengan kondisi seadanya. Melihat rombongan tersebut, saya menghampiri mereka dan berbincang pada salah satu rombongan untuk meminjam mukenanya. Alhamdulillah Allah selalu mengingatkan saya untuk beribadah dan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk beribadah, meskipun saya selalu lupa membawa mukena. hehe…

Perbedaan solat di masjid, rumah dan di kamar dengan solat diatas gunung itu sungguh luar biasa berbeda. Bukannya melebih-lebihkan, tetapi ketika saya menjalani rakaat demi rakaat diatas gunung itu, hati saya selalu tergetar. Saya bersujud dan mengucapkan syukur, persis didepan keAgungan Allah SWT. Pemandangan yang terhampar persis di depan saya saat bersujud dan berdoa ini, tampaknya menjadi bukti betapa kecilnya saya sebagai salah satu ciptaan Allah. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya saat beribadah di atas gunung, hal ini menjadi salah satu tamparan bagi saya untuk selalu bersyukur atas kehidupan di dunia.

Image

Kuning Keemasan di langit menjadi pengingat kalau matahari akan muncul di balik awan. Sayangnya kabut tebal menjadi penghalang keindahan itu. Kami hanya mendapati warna-warna keemasan diantara birunya langit subuh hari itu. Namun hal ini tidaklah mengecewakan kami, karena kami sudah cukup puas melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Subhanallah…

Finally, kami tiba di Dieng Plateu! (What a disaster journey, but..)

image

Welcome!!

Perjalanan 24 jam itu segera terlupakan, setelah saya melihat remang-remang gapura selamat datang di Objek Wisata Dieng Banjarnegara, yang telah ditutupi kabut dingin malam. Ya, kami tiba di dieng sekitar jam 8 malam. Saat itu kami
kesenangan setengah mati melihat area dieng seperti melihat surga, setelah mengalami penderitaan panjang di dalam bus.

Tepat pukul 09.00 malam, setelah menikmati air es beku untuk mandi. Kami siap menikmati malam hari itu dengan berkumpul dengan para traveler melihat pesta kembang api dan pesta lampion di kawasan candi arjuna.

Pesta kembang api sih sudah menjadi hal yang biasa, namun yang paling kami tunggu ada pelepasan lampion. Pasti romantis dehh! Eeh.. Lupakan kata romantis, karena saya kesana tidak bersama pacar/gebetan/temen dekat/suami. Tapi saya pergi bersama para traveler narsis.. 2 wartawan, 2 pegawai bank, 1 pegawai kedutaan dan 1 PNS, sebut saja abe, bayu, delti, iran, catur dan saya sendiri.

image

(Dari atas-bawah/kanan-kiri) abe, bayu, catur, delti, saya di kawasan candi arjuna.

Bukannya romantis, teman2 saya selalu meminta difoto setiap moment. Padahal saya bawa kamera mirrorless untuk hunting foto2 keren tetapi saya malah menjadi “tukang foto”nya temen2 traveler narsis saya.. 😀

image

Pesta Lampion

Kembali lagi ke acara pesta lampion. Pesta ini diadakan di kawasan candi arjuna. Dimana kawasan yang cukup luas ini, terhampar candi-candi kecil yang cukup indah. Namun sayangnya kawasan ini tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup, sehingga pesta lampion ini tidak cukup terlihat cantik. Padahal saya sudah membayangkan pesta lampion ini terlihat cantik ketika difoto dengan dikelilingi oleh candi-candi yang ciamik. Penerangan yang kurang menyebabkan lokasi candi ini menjadi tidak terlihat.

Pesta lampion ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang mendaftar sebelumnya, dengan membayar penggantian lampion. Peserta pesta lampion ini bersama-sama melepaskan lampionnya. Dan alhasil, langit di dieng plateu ini menjadi indah berwarna-warni karena dipenuhi dengan lampion-lampion.

1001 jam dalam kehidupan bus! (What a disaster journey.but…)

image

Mendapati diri duduk di tengah pada bus yang memiliki formasi kursi 3-2 adalah musibah buat saya.. Iya! Saya pikir duduk ditengah2 pada formasi 3nya bisa saya lewati dengan mudah dan optimis, perjalanan ini akan menyenangkan!.

Melihat penderitaan teman-teman saya yang duduk pada posisi yang tidak nyaman menjadi cerita unik buat kami selama perjalanan ini.

Terkikik, adalah hal pertama buat kami dalam mentertawakan diri kami.. Bayangkan saja, saya duduk di antara dua ibu-ibu rempong yang bawa segambreng kardus.. Bau ketek, bukan lagi maslah buat saya, karena saya bisa sangat memaklumi penuhnya bus membuat air-conditioning tidak mampu mengatasi kegelisahan dan ramainya penumpang bus. Yang paling menjadi masalah terbesar dalam posisi duduk saya adalah seorang Ibu yang memiliki hobi : mengeluh dan cerewet.

Oke! Saya mulai dengan kosakata CEREWET. Kata ini emang tidak asing bagi saya namun, kata ini saya sangat berharap jauh2 dari kehidupan saya saat itu. Sepanjang perjalanan, ibu disebelah kanan saya ini, sebut saja bu Tini, dari awal saya duduk sampai turun bus tidak pernah berhenti bicara. Pembicaraan pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Pak supir..kapan sampai?” Dan kalimat yang terkakhir saya dengar dari mulutnya adalah “Pak supir, ini kapan sampainya?”. Apa perlu saya ceritakan mengapa dia saya sebut cerewet? Semua orang pasti paham pertanyaan yg berulang2 itu sengaja dikeluarkan menandakan ketidaksabaran seseorang dalam memahami situasi yang ada.

Perlu dibayangkan, apa yang saya rasakan setiap menandapati pertanyaan itu tepat didepan telinga kanan saya? Menggila! Iya saya menjadi semakin menggila dan menjadi tidak nyaman. Setiap bu Tini bertanya saya hanya bisa tersenyum. Senyum miring dengan derajat kemiringan 45°, yang berarti kecanggungan dan tidak menyenangkan.

Kosakata kedua selanjutnya adalah MENjGELUH. Kata sifat satu ini adalah sifat negatif yang saya tidak sukai. Mendengar orang mengeluh, sama saja membuat saya membawa beban pikul seberat 100kg. Keluhan yang dikeluarkan itu sebenarnya pun tidak penting untuk dikeluarkan karena bukan hanya menyembuhkan hati yang cemas tetapi malah membuat rasa cemasnya menjadi 100x lipat.

Mendengar bu Tini disebelahku selalu mengeluh seperti kursi sempit, panas, lama, lambat, macet, dan sebagainya itu, sama saja mentransfer energi negatif yang dimiliki bu Tini kepada saya. Ion negatif itu membuat saya menjadi terasa lebih capek!

Perjalanan seolah melambat akibat ketidaknyamanan yang dimiliki satu orang menjadi milik bersama.

Jarak tempuh normal jakarta – wonosobo kurang lebih 12 jam ini, menjadi 2 kali lipat mencapai 24 jam untuk menjangkau Dieng Plateu, lokasi wisata yang saat itu sedang mengadakan festival dieng..

24 jam seperti 1001 jam. Aku mendapat diri saya untuk dipaksa tidur bila ada kesempatan demi menghindari dari keluhan Bu Tini yang super dahsyat!!

Penderitaan saya bukanlah yang terhebat. Teman perjalanan saya delti, dia terpaksa duduk di kursi tambahan disebelah supir persis. Bukan karena kursi tambahannya, tetapi karena dia harus terpaksa menemani si supir mengobrol karena takut si supir mengantuk. Baiknya adalah sifat ramahnya, mampu membuat supir berbincang asik dengannya, sehingga si supir tidak kembali mengantuk. Tetapi ramah itu juga kan  tidak harus dengan cara menemani supir mengobrol semalaman suntuk…

Aaahh… Penderitaaan 24 jam perjalanan itu seperti 1001 jam yang memiliki banyak rasa dan cerita.. Kesal dan tertawa adalah dua hal yang berbeda, namun perjalanan saya ini bisa membuat 2 hal yang bertolak belakang menjadi 1 hal yang terjadi saat bersamaan.