Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for March, 2013

My Blind Travelling: Day 5 – 6. It’s All About Semarang (part.5-end)

image

Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Pagi di Semarang, setelah tidur yang cukup. Kami memulai petualangan kami dengan nasi kucing yang seharga 3 ribu, tepat di depan penginapan kami. Setelah kenyang, kami kembali ke penginapan untuk packing barang-barang dan check out.

Namun karena kami masih ingin berkeliling, kami menitipkan ransel-ransel kami pada resepsionis setelah check out dan menyelesaikan administrasinya.

Setelah bertanya-tanya pada orang-orang, kami memutuskan menggunakan bus untuk mengunjungi tempat pertama yaitu lawang sewu. Meski didepan penginapan kami ada becak-becak yang dengan penuh harap agar kami menggunakan jasanya, karena kejadian kemarin kami kapok menggunakan becak.

Kami harus berjalan dulu sekitar 10 menit hingga menemukan jalan pemuda. Setelah menyebrang, kami menaiki bus yang melewati tugu pemuda dengan ongkos 2rb. Sekitar 15 menit, kami turun tepat di depan Lawang Sewu.

image

Dengan membeli tiket 10.000/org, kami sudah bisa menikmati mistisnya lawang sewu. Dan petualangan kami dimulai di gedung tua yang penuh misteri ini. Kami sengaja tidak menggunakan pemandu selama didalam, selain harus membayar 30.000, kami memang sengaja ingin bebas kesana kemari untuk mengambil foto-foto keren untuk di capture.

image

Seribu Pintu di Lawang Sewu

Memasuki lorong-lorong gelap, memang menjadi dilema bagi saya yang sedikit penakut. Bahkan saya dan teman-teman saya sempat terpisah dan berpencar karena autis masing-masing dengan kameranya. Karena suasanya yang memang menyeramkan, saya putuskan untuk kembali bersama rombongan, namun aku sudah kehilangan jejak mereka,huaaaa….

image

Lorong Gelap

Saya seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pasar, saya pun dengan melupakan rasa malu saya, memanggil nama teman saya..tetapi tampaknya saya tidak menemukan mereka. Dan ternyata tiba-tiba ada yang memanggil nama saya “rantiiii……”. Mendengar itu, saya pun langsung tersenyum, i found you guyss……

image

Ruang Bawah Tanah yang Menyeramkan

Kami pun kembali ke dalam rombongan dan memulai dengan ke autisan kami dengan kamera. Tapi kali ini saya tidak mau jauh-jauh dari mereka. Setelah puas menikmati horornya lawang sewu, kami beristirahat dan berpikir mau kemana lagi ya sekarang?

Setelah browsing-browsing di internet, kami memutuskan ke klenteng Sam Poo Kong. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Lawang Sewu, butuh waktu 30 menit kesana dengan menggunakan bus umum. Setelah banyak bertanya, kami turun di depan Rumah Sakit dan nyambung dengan mikrolet, tidak lama kami turun dan kami harus berjalan kaki selama 10 menit hingga menemukan bangunan klenteng yang berwarna merah itu.

Sesampainya disana, kami tidak membuang waktu kami. Dengan membayar 10.000/tiket, kami bisa masuk dan menikmati keindahan bangunan khas china beserta ukiran-ukiran, patung para dewa dewi.  Kamera kami adalah barang penting bagi kami untuk mengabadikan bangunan-bangunan yang memang ciamik ini.

image

image

Setelah puas, kami memutuskan untuk ke Kota Lama Semarang. Namun karena letaknya yang tidak jauh dari penginapan kami, kami putuskan untuk kembali ke penginapan untuk membawa serta ransel kami. Setelah membawa ransel, kami menuju ke kota lama dengan menggunakan becak dengan biaya 10rb.

Sesampainya di Kota Lama, kami segera berkeliling. Kota Lama ini tidak jauh berbeda dengan Kota Tua milik Jakarta. Gereja Blenduk adalah bangunan yang paling penting bagi para traveler untuk mengunjunginya di Kota Lama. Bangunan khas Belanda dan sengaja tetap dipertahankan keaslian bentuknya ini, memang membuat kami berdecak kagum.

image

Gereja Blenduk, Kota Lama

image

Setelah kelelahan dan waktunya sudah semakin sore, kami memutuskan untuk ke terminal bus dan mengejar bus ke Jakarta yang jam 7 malam. Sesampainya di terminal, kami kebingungan seperti orang bego. Karena kami tidak menemukan bus jurusan Jakarta, yang kami temukan hanya bus jurusan Jawa. Setelah bantuan dari pedagang minuman di terminal, kami ditawarkan tiket bus ke Jakarta sebesar 125.000. Kami sebenarnya mengetahui, kalau mereka adalah calo dan menyadari kalau harga tiketnya sudah di mark up oleh mereka.

Sekitar pukul 17.30 kami diantarkan dengan motor menuju ke pool bus yang menuju ke Jakarta. Dengan kaget, kami pun melihat kalau harga tiket aslinya hanya Rp 65.000 saja. Artinya kami rugi 60.000 tiap orang. Huaaaaaahh… Saya pun mendumel kepada teman-teman saya dan mengomel-ngomel tidak jelas.huhuhuuu… Kali ini kami rugi lagi..

Tepat pukul 19.30, bus kami tiba dan kami kebagian tempat duduk yang berjejer untungnya. Melihat penumpang lainnya, kami sadari kalau mereka kebanyakan adalah pedagang dan para kuli. Kami terkikik melihatnya, pengalaman seruu memang. Selain kondisinya ribut, mereka tampak lusuh seperti habis dalam perjalanan panjang. Dan tanpa mengindahkannya kembali, kami pun tertidur di dalam bus. Sekitar jam 9 pagi, kami pun sampai di Jakarta dan berpisah di cempaka putih. Dan inilah akhir cerita kami, travelling bersama traveler yang sama-sama bego dan tidak tahu arah tetapi tetep sok keren. Terimakasih traveler partner atas liburannya. Semoga kedepannya kita bisa berkumpul dan menikmati liburan bersama lagi.. I love you guys for this blind travelling… 🙂 🙂 🙂

-The End-

My Blind Travelling: Day 4. Jepara here we come!!! (Part.4)

image

Good Bye Karimun Jawa...

Masuk hari ke-4 liburan, kami kami menuju ke pelabuhan karimun jawa untuk menyebrang ke Jepara. Untuk penyebrangan di hari Minggu, dijadwalkan penyebrangan jam 10.30 dengan kapal cepat express cantika 89.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami tiba di pelabuhan kartini jepara. Siang, tepat pukul 13.00 WIB, kami beristirahat di salah satu kantin dan mencari masjid terdekat dengan pelabuhan. Tak di sangka di sebelah persis pelabuhan kartini ini ada sebuah tempat wisata bernama Pantai Kartini.

image

Dengan membayar tiket masuk Rp 5000, kami sudah bisa menikmati pantai kartini. Pantai disini memang tidak seindah pantai-pantai di karimin jawa. Tempatnya yang kurang terawat dan kurang bersih, membuat minus tempat wisata ini.lup Ketidakbersihan pantai juga disebabkan para pengunjung yang tidak aware terhadap “Buang Sampah Pada Tempatnya”.

image

Lupakan sejenak tentang kesadaran orang ttg sampah, saya menelusuri pantai ini dengan traveler partner saya. Saya menemukan spot-spot terkeren untuk menikmati keindahan pantai di sepanjang jembatan, dimana di tengah-tengahnya terdapat gazebo untuk berteduh sekedar menikmati pantai.

image

Setelah cukup lama menikmati pantai di salah satu gazebo diatas jembatan itu, kami kembali menelusuri tempat wisata tersebut. Setelah menyebrang di jembatan, kami melewati pertokoan yang menjual oleh-oleh khas jepara atau pernak pernik dari kerang yang lucu-lucu. Namun saat itu adalah travelling saja, maka saya tidak membelinya, saya hanya sekedar melihat dan mengcapture barang-barang yang lucu.

image

image

Setelah melewati pertokoan, di samping kanan kami ada sebuah taman dan terdapat patung pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Patung ini menandakan bahwa kota Jepara adalah kota kelahiran RA Kartini.

image

Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami segera mencari becak untuk membawa kami ke terminal bus Jepara. Letak stasiun sekitar 15 menit perjalanan, sepanjang jalan kami menikmati kota Jepara yang sepi namun tertata rapih.

Tiba di terminal, kami pun berpikir apakah kami langsung kembali ke Jakarta atau menjelajah di kota lain? Mengingat sisa libur saya masih 2 hari lagi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Semarang.

Bus Jepara – Semarang yang non- AC ini cukup murah, dengan perjalanan lebih dari 2 jam, kami cukup membayar 15 ribu saja. Jangan terlewatkan pemandangan di sepanjang perjalanan, karena kami melihat suasana desa yang sederhana dengan hamparan sawah-sawah yang hijau kekuningan.

Resiko naik bus yang non-AC ini adalah kami di oper ke bus lain yang menuju Semarang. Awalnya kami bisa duduk manis, dan sekarang kami harus menikmati berdiri dengan membawa gembolan ransel. Phiuuufffhh…butuh waktu setengah jam lebih setelah kami dioper ke bus lain hingga kami tiba di terminal bus Semarang.

Hari ini cukup lelah buat kami, dan kami segera mencari angkutan yang dapat membawa kami ke penginapan murah. Setelah browsing, para backpacker direkomendasikan ke Jl. Imam Bonjol untuk mendapatkan hotel-hotel melati yang murah. Setelah naik mikrolet sekali, kamu naik becak dan ternyata hotel rahayu yang direkomendasikan di blog awalnya 50rb, sekarang menjadi 90rb.

Tiba-tiba abang becak menawarkan penginapan murah sekitar 40rb, namun setelah kesana setiap penginapan murah itu penuh semua. Dan bahkan ada penginapan yang diatas 200rb. Kayaknya abang becak ini membawa kami muter-muter deh, pikirku. Awalnya untuk mencapai ke imam bonjol hanya 15rb, karena muter-muter kami harus membayar 30rb. Waahh kami ditipuuuuu…. Dan akhirnya kami kembali ke hotel rahayu. Karena kami lama muter, kami kehilangan kamar 90rb dan kami mendapatkan kamar 100rb. Huaaaa.. Kami rugi banyakkk….

Namun kejadian ini membuat kami ketawa, benar2 pengalaman nyasar-nyasar dan ditipuu… Hari itu kami lelah sekali, akhirnya setelah makan malam, kami segera tidur. Karena besok seharian kami akan berkeliling Semarang, sebelum kami kembali ke Jakarta di sore harinya. (Continued)

My Blind Travelling : Day 3. The Real of Karimun Jawa (Part.3)

image

The Beautiful of Karimun Jawa, Indonesia
(doc. Ranti)

Sabtu pagi itu (16/3), kami sudah bersiap-siap dan berkumpul di alun-alun Karimun Jawa yang letaknya berdekatan dengan dermaga Karimun Jawa untuk menyebrang ke pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Tepat pukul 08.00 WIB, kami janjian dengan Mas Anto, pemilik perahu yang memiliki paket penyebrangan dan trip di kepulauan Karimun Jawa. Setelah bertemu, kami berkumpul dengan 11 orang yang kebetulan datang dari Jakarta. Kami yang cuma bertiga ini join dengan 11 wisatawan agar meringankan biaya perahu dan tour nya, dan kami hanya membayar Rp 100.000/orang include makan siang, perlengkapan snorkeling dan foto underwater.

image

Diatas Perahu
(Doc. Ranti)

Beruntungnya, rombongan yang berjumlah 11 orang itu berusia sama dengan kami, jadi kami bisa cepat berbaur. Awalnya kami sempat berpikir jangan-jangan kami satu perahu dengan ibu-ibu rempong atau abege muda yang alay, pasti tripnya jadi ga asik,hheee…

Setelah berkenalan, kami pun mulai dibagikan pelampung dan perlengapan snorkeling oleh nahkoda perahunya. Oya, jangan minta saya menyebutkan nama masing-masing di rombongan itu, saya paling lemah dalam hal mengingat nama,hhehee…

Di atas perahu, kami mulai menyusuri lautan jawa yang memiliki ombak tenang, menuju tempat pertama yaitu Gosong Seloka. Gosong seloka ini tempat terunik yang pernah aku temui, dia terletak diantara lautan dan memiliki kedalaman yang dangkal. Jadi seperti kolam kecil di antara kolam yang besar. Luasnya pun tidak terlalu luas, memiliki kedalaman yang lebih dangkal daripada lautan yang di sekelilingnya. Airnya cukup bening dan kaki pun bisa menapak pasir di dalamnya, untuk tinggi badan saya yang cuma 156 cm, kedalamannya setinggi dada saya.

Pulau yang tanpa batu-batu karang ini memang dijadikan tempat para wisatawan untuk belajar snorkeling dan diving, dan penting sekali buat pemula seperti saya yang tidak bisa berenang. Setelah cukup mengenal dan beradaptasi dengan perlengkapan snorkeling, akhirnya kami berangkat menuju Pulau Kecil. Spot di Pulau Kecil merupakan spot pertama untuk kami ber-snorkeling. Yipiieeee… saya seperti anak kecil yang kegirangan, belum apa-apa sudah minta difoto,hhahaha…

image

Snorkeling Time!!!
(Doc. Ranti)

Awal loncat ke lautan, perasaan saya begitu dag dig dug, tetapi saya yakin dengan perlengkapan yang sudah saya pakai ini aman dan meyakinkan. Pluuuungg,,, saya pun menyemplung, dan begitu melihat ke dalam laut, hal pertama yang saya ucapkan adalah “Subhanallah…”. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang ada dalam pandangan saya hanya keindahan di bawah laut yang memang tidak pernah kita temui setiap saat apalagi di Ibukota Jakarta.

Jajaran batu-batu karang yang hidup memberikan tempat tinggal bagi para ikan dan coral-coral berwarna-warni yang cantik dan beberapa ikan-ikan kecil menggodaku untuk menangkapnya, tapi ternyata tidak bisa karena saya menggunakan pelampung.

image

Pulau Tengah, Karimun Jawa
(Doc. Ranti)

Setelah puas dengan bersnorkeling, perahu membawa kami menuju Pulau Tengah untuk menikmati santap siang. Makanan yang disajikan bukanlah makanan mewah, tetapi ikan-ikan segar yang telah dibumbui sederhana dengan menggunakan kayu-kayu bakar. Rasanya sungguh LEZAToooozzzz…..!! Pulau Tengah ini memang sengaja digunakan para wisatawan untuk beristirahat setelah puas bersnorkeling atau diving. Di pulau ini memiliki keindahan pantai yang sungguh memukau, selain memang alami, air pantai yang bersih dan jernih mampu membius saya.

image

Bakar-Bakar Ikan-Ikan Laut yang Colourful..
(Doc. Ranti)

Perjalanan kami pun dilanjutkan ke Ujung Gua untuk bersnorkeling kembali, kedalaman laut disini lebih dalam dari Pulau Kecil sebelumnya dan memiliki keindahan yang lebih membius saya yang memang terbilang pertama melihat biota bawah laut. Selain ikan-ikan yang berwana-warni, coral-coral disana lebih beraneka ragam bentuknya. Sayangnya saya tidak membawa kamera underwater untuk mengabadikan keindahan bawah laut, huhuhuuu..

Setelah lama di dalam air laut, kulit dan wajahku menjadi terbakar dan terasa perih saat terkena air laut, akhirnya saya dengan berat hati kembali ke atas perahu dan menunggu para rombongan puas bersnorkeling. Tidak lama, kami dibawa ke Menjangan besar untuk menemui para baby hiu yang telah menunggu kami untuk berenang bersama. Menjangan Besar terkenal dengan penangkaran hiu-nya, dimana di beberapa tempat menawarkan wisata hiu. Wisata hiu ini untuk menguji nyali kita berenang bersama mereka.

Awalnya saya takut, namun setelah melihat beberapa pendatang sebelumnya tidak apa-apa, akhirnya saya memberanikan diri turun ke kolam yang telah penuh dengan hiu-hiu itu. Untuk turun ke kolam hiu itu, kami dikenakan biaya Rp 5000 saja dan kami sudah bisa berfoto dengan para hiu tersebut. Sayangnya saya tidak boleh memegang mereka, mungkin karena takut hiu-hiu tersebut menjadi lebih agresif,hhee..

image

Me with Baby Shark, wuhuuuuu….
(Doc. Ranti)

image

Saya Berenang Bersama Hiu dengan Senyum Palsu :p
(Doc. Ranti)

Setelah dari penangkaran hiu, kami memburu sunset di tengah-tengah lautan yang telah disiapkan bangunan-bangunan kecil dari kayu yang telah disiapkan untuk para wisatawan untuk memburu sunset. Memburu sunset berarti saatnya saya menggunakan kamera mirrorless saya dan mengcapture keindahan sunset diatas lautan. Huaaaaaa..amazing!! Tidak lupa, satu rombongan yang berjumlah 14 orang ini mengabadikan foto bersama dengan background sunset yang indah.

image

Sunset Time
(Doc. Ranti)

image

Mengcapture Sunset diatas lautan.
(Doc. Ranti)

image

Peace….!!!
(Doc. Ranti)

Trip kami pun selesai dan kami kembali ke penginapan kami masing-masing. Hari ini benar-benar menyenangkan sekali dan saya bisa menikmati Karimun Jawa sesungguhnya, kekecewaan kami kemarin akhirnya terobati. I Love Karimun Jawa.

My Blind Travelling : Day 2. Karimun Jawa (Part.2)

Ujung Gelam Beach Spot!!

Ujung Gelam Beach Spot!!

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam di dalam Kapal Ekspress Cantika 89, Kami turun di pelabuhan Karimun Jawa yang terlihat kecil sekali tepat pada pukul 13.30 WIB. Sesampainya, kami menuju ke rumah-rumah penduduk yang berlokasi tidak jauh dari Pelabuhan. Melalui bantuan ABK pak Usman, kami direkomendasikan ke salah satu home stay yang tidak jauh dari alun-alun Karimun Jawa dan tidak jauh dari Pelabuhan. Karimun Jawa ini tidak terlalu luas, transportasi yang digunakan oleh masyarakat setempat adalah sepeda motor. Sedangkan mobil-mobil berukuran minibus atau ELF untuk mengangkut para turis lokal maupun mancanegara.

Yang pertama kami lakukan adalah mencari penginapan MURAH!! Bukan hotel, tapi rumah penduduk dengan kisaran harga under 100.000. Berkat rekomendasi Pak Usman, kami menemukan home stay “Firzah”, kepemilikan pak arif yang kebetulan juga Pak Lurah disana, lokasinya dekat dari mana-mana. Kami ditawarkan dengan biaya 75.000 – 100.000 dengan fasilitas 2 tempat tidur, kamar mandi di dalam dan kipas angin. Karena pertimbangan kebersihan, lokasi dan keamanan yang memang homestay nya milik Pak Lurah, akhirnya kami memutuskan memilih homestay “Firzah”.

Perlu diketahui untuk listrik di Karimun Jawa hanya dihidupkan dari pukul 18.00 WIB – 06.00 WIB. Jadi jangan harap kalian bisa menikmati kipas angin di kamar karena memang cuaca di luar sangat terik karena angin pantai atau hanya sekedar mengisi baterai gadget kalian. Jadi harap bersabar hingga pukul 18.00 WIB yaaa…..:)

Sebelumnya, saya cukup kecewa saat sampai di Karimun Jawa. Karena ternyata Pulau Karimun Jawa ini tidak dikelola dengan baik seperti halnya Pulau Bali yang memiliki pemandangan di setiap spot penginapan langsung ke pantai atau tersebar kafe-kafe ciamik untuk sekedar nongkrong. Disini juga tidak ada rumah makan seafood yang biasanya sering dijumpai di tempat-tempat wisata pantai.

Untuk menghilangkan kebosanan di sore hari karena tidak ada yang bisa dilihat-lihat, akhirnya kami menyewa sepeda motor dengan harga Rp 50.000/12 jam. Kami berkeliling-keliling di pulau Karimun Jawa ini, dan bertanya-tanya apakah ada pantai di dekat sini. Ternyata pantai terdekat adalah pantai di pelabuhan karimun jawa dan pantai ujung gelam. Pantai Ujung Gelam ini terletak sekitar 30 menit perjalanan dari alun-alun Karimun Jawa. Kami berencana mengejar sunset di sore hari untuk sekedar hunting foto disana dengan menggunakan motor. Jalanan yang kami lalui terbilang cukup rusak dengan lubang-lubang di sekitar kanan kiri jalan. Phiuuufffhh..Sungguh sangat disayangkan tempat begitu indah tetapi tidak dikelola dan dirawat dengan baik. Hal ini membuat para turis yang datang merasa kurang nyaman.

Petunjuk jalan menuju tempat-tempat wisata di Karimun Jawa ini pun tidak begitu jelas, sehingga kami harus tersasar dan bertanya dengan penduduk setempat. Melihat jalanan yang tidak berdamai dengan sepatu sandal yang saya gunakan, akhirnya saya memutuskan mampir di warung untuk membeli sendal jepit, sembari menanyakan jalan menuju Pantai Ujung Gelam yang direkomendasikan penduduk sebagai tempat yang cukup indah untuk menikmati sunset. Setelah bertanya, ternyata kami sudah melewati pantai terlalu jauh, sehingga kami harus memutar balik arah.

Pantai Ujung Gelam ini terletak di sebrang SD dan agak masuk kedalam hutan. Setelah menaiki jalanan yang menanjak, akhirnya pantai pun terlihat. Huaaaa… Saya sangat excited!!! wuhuuuuuu… kami segera memparkir motor, dan menuju ke pantai. Dan jreeeng jengg jreeeenggg……Kami menemui pantai yang diluar prediksi kami, tidak terlalu indah tetapi cukup mengobati kekecewaan kami. Karena saya pikir pantai di Karimun Jawa ini bisa sangat luar biasa indah, namun sama seperti pantai-pantai di Lampung, kota asal ku lahir. Memang benar, pantai Ujung Gelam ini bersih dan masih alami, pasirnya putih, biru lautnya sangat cantik, batu-batu karang yang berjajar di pinggir pantai tersusun rapih seolah sengaja dibuat untuk tempat duduk para penikmat pantai menikmati sunset.

Kami pun mulai berpencar untuk hunting foto dengan menggunakan Sony Nex F3 dan HP Nexus, dan hasilnya mengagumkan!! Saya sangat mengagumi keindahannya dan menikmati sunset di pantai ini yang merupakan ciptaan Tuhan.

Sunset di Pantai Ujung Gelam

Sunset di Pantai Ujung Gelam

Setelah puas hunting foto, mulai terdengar suara adzan Maghrib. Kami memutuskan kembali ke penginapan untuk solat maghrib dan bersiap-siap untuk mencari makan malam. Setelah sampai di penginapan, kami segera bersiap ke alun-alun Karimun Jawa yang luasnya hanya satu lapangan sepak bola kecil untuk mencari tempat makan… Agak sedikit kecewa juga sih, karena memang tidak ada pilihan tempat makan yang cukup nyaman dan cozy untuk nongkrong. Yang kami temui hanya SATU tempat makan “Warteg” yang cukup ramai. Akhirnya kami memutuskan makan disana dengan berbagai pilihan lauk makanan rumahan seperti tahu tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, sayur sop dan sebagainya. Rasanya cukup enak dan memang tempat makan itu cukup ramai didatangi oleh para penduduk maupun turis lokal. Dengan mengeluarkan uang 5 – 10 ribu, kita bisa menikmati makanan yang sangat mengenyangkan.

Pendapat saya, hari pertama cukup mengecewakan karena kami tidak begitu menikmati Karimun Jawa seperti dalam blog-blog di internet tentang keindahannya. Sekitar jam 21.00 WIB, kami kembali ke alun-alun, untuk sekedar nongkrong di pinggir alun-alun yang banyak menjajakan makanan kecil seperti gorengan, kelapa muda, bakso maupun siomay. Disana, kami sekedar mengobrol dengan ditemani susu coklat dan air kelapa muda utuh. Hari Jumat ini kami tutup dengan sedikit kekecewaan dan kami berharap keesokan harinya kami bisa menemui keindahan pulau-pulau kecil saat kami menyebrang dari Pulau Karimun Jawa untuk snorkeling esok hari. 🙂 🙂 🙂

My Blind Travelling : Perjalanan Dimulai (part.1)

image

Hello karimun jawa...!!!

 

Blind Travelling adalah kosakata yang saya pilih dalam mengkategorikan “travelling” kali ini. Hal ini dikarenakan saya belum pernah kesana, ga ada kenalan disana, ga tau daerah sana, bagaimana kesana dan mempunyai traveler partner yang senasib “sama-sama buta”.

Blind travelling ini, saya bermodal pada gadget sebagai sumber terpercaya dalam mencari berbagai informasi baik transportasi, map, penginapan dan tempat-tempat wisata terbaik disana dan tidak lupa “bertanya kepada orang” sebagai jalan tercepat dan terakhir kalau sampai nyasar.

Selasa (12/3), saya dan traveler partner masih merencanakan perjalanan ke dieng plateu. Area puncak/pegunungan di daerah Wonosobo yang terkenal sebagai surganya dewi-dewi. Dieng plateu terkenal dengan pemandangan yang indah dari ketinggian dan berkumpulnya berbagai candi-candi peninggalan bersejarah, telaga, kawah dan pegunungan. Namun keesokan harinya, saya membaca berita di The Jakarta Post kalau daerah Dieng Plateu mengeluarkan gas beracun dari salah satu gunungnya. Kami tidak ingin mengambil resiko kali ini, karena kami benar-benar buta daerah sana. Jadi diputuskan kami merubah haluan liburan kami. Dan tercetuslah “KARIMUN JAWA”.

Berbekal pada internet untuk membrowsing “all about Karimun Jawa”, aq menemukan situs www.karimunjawa.com. Disebutkan bahwa Karimunjawa merupakan kepulauan yang ada di Laut Jawa dan masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dan berjarak kurang lebih 83 km ke utara Jepara. Potensi utama di Karimunjawa adalah keindahan alam bawah lautnya dengan aneka ragam biota laut. Dengan potensi taman lautnya, pemerintah Indonesia menetapkan Karimunjawa sebagai taman nasional sejak tahun 2001 dengan nama Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional Karimunjawa terdiri atas gugusan 27 buah pulau kecil. Dari jumlah tersebut hanya ada 5 pulau yang ada penduduknya, antara lain Pulau Karimunjawa, Pulau Genting, Pulau Kemujan, Pulau Nyamuk, dan Pulau Parang. Tiap pulau memiliki keindahan pantai yang menakjubkan.

Tanpa memperoleh pengetahuan sebelumnya dan hanya berpegang pada blog para bloger dan situs tentang kepulauan Karimun Jawa di internet yang memberikan panduan untuk menuju kesana, akhirnya aku dan traveler partnerku memesan bus dari Jakarta – Jepara by phone dengan menggunakan PO. Shantika untuk hari Kamis (14/3) dengan merogoh kocek Rp 130.000.  Jadwal keberangkatan bus Shantika ini hanya satu kali yaitu pukul 16.30 WIB.

Bus PO. Shantika Jakarta - Jepara

Bus PO. Shantika Jakarta – Jepara

Kamis tiba dan perjalanan kami segera dimulai. Kami berkumpul di Terminal Grogol pukul 16.00 WIB. Dan belum juga berangkat kami terdampar di terminal Grogol karena kami tidak juga menemukan Pool PO Shantika. Setelah bertanya kepada petugas dishub setempat, “Waah dek.. PO. Shantika yang di grogol sudah setahun ditutup, adanya di Kalideres”. Whaaaattttttt!!!! Dalam hati saya memantrai diri sendiri “don’t be panic.. don’t be panic..”. akhirnya saya berinsiatif menelpon PO. Shantika dimana saya memesan tiket bus tersebut. “Halo mba… Pool nya ada dimana ya mba? Kok kata petugas di terminal, adanya di Kalideres?”,tanyaku. “Waduh..kok di kalideres? Di Grogol kok mba ada disebrang RSJ, terus lagi mba dari terminal”, jawab perempuan disebrang telepon.

Setelah bermodal mulut, tanya-tanya sama orang yang ada di sekitar, akhirnya kami menemukan pool PO. Shantika. Sesampainya disana, kami langsung membayar tiket bus ke Jepara tersebut, dan tidak lama bus berangkat tepat pada pukul 16.30 WIB.

Harga Tiket Rp 130.000

Harga Tiket Rp 130.000

Selama perjalanan di bus, kami hanya menikmati jalanan ibukota yang macet dan akhirnya tidak lama tertidur. Tepat pukul 22.00 WIB, kami sampai di tempat peristirahatan Indramayu untuk menikmati makan malam. Pilihan menu makan malam itu adalah telur asin, ikan lele, ikan goreng dan sayur sop, namun kami hanya boleh memilih salah satu lauk saja. Pilihan jatuh pada ikan lele dan sayur sop, karena kelaparan, saya melahapnya dengan cepat. Setelah makan, kami menyempatkan untuk solat maghrib yang dijamak dengan solat isya.

Perjalanan pun dilanjutkan, kekenyanganpun membuat kami kembali terlelap di tempat duduk bus kami masing-masing. “mbak-mbak.. turun di karimun jawa ya? Mbak sudah sampai, turun disini ya terus lanjut naik becak aja mba”,teriak kernet bus sambil memukul-mukul pundak saya karena kebluk. Huaaaaaaaaaa…..kami pun langsung heboh dan cepat-cepat membereskan tas-tas yang kami bawa. Untungnya saya hanya membawa satu tas ransel dan satu tas selempang kecil.

Menuju Pelabuhan Kartini dengan Becak

Menuju Pelabuhan Kartini dengan Becak

Saat itu, saya melihat jam tangan yang telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami celingak celinguk mencari-cari becak yang bisa membawa kami ke Pelabuhan Kartini, Jepara. Akhirnya tukang becak, menawari kami jasa. Setelah nego-nego, satu becak dikenakan biaya Rp 10.000.

Suasana pagi itu, membuat badan kami kembali segar setelah capek duduk di dalam bus semalaman. Angin semilir yang mengenai badan kami, mendinginkan badan kami yang kegerahan dan seketika kami lupa kalau kami belum mandi. Menikmati jalanan Jepara dengan menggunakan becak, sangat saya rekomendasikan. Karena selain kita terkena angin pagi yang segar, pemandangan daerah Jepara bisa langsung kami nikmati saat itu.

Patokan sebelum Pelabuhan Kartini

Patokan sebelum Pelabuhan Kartini

Setelah melewati Universitas Diponegoro Jepara “Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai”, kami tiba di Pelabuhan Kartini. Pelabuhan Kartini ini tidaklah terlalu besar, hanya memiliki satu dermaga saja dan disana sudah terparkir dua kapal, yaitu kapal ekspress cantika 89 dan kapal muria. Jadwal untuk penyebrangan hari Jumat adalah dengan kapal ekspress cantika 89 pukul 10.30 WIB. Perlu diketahui, penyebrangan dari Pelabuhan Kartini menuju Pelabuhan Karimun Jawa hanya satu kali perhari, jadi perlu diingat benar-benar jam keberangkatannya.

Loket pada pagi itu belum juga buka, kami mengisi waktu menunggu dengan sarapan dan berisitirahat di salah satu kantin di Pelabuhan Kartini. Kami memesan nasi soto ayam dengan harga Rp 5000 saja!! Porsi besar dan sangat mengenyangkan. Pukul 09.00 kami kembali mengintip loket dan ternyata belum buka juga, akhirnya kami bertanya-tanya dengan para penumpang yang sudah ramai berdatangan menunggu di depan dermaga. Kagetnya kami, ternyata mereka semua sudah memegang tiket dan telah membeli tiket sebelum hari keberangkatan. Kami mulai panik dan celingukan mencari petugas pelabuhan atau ABK yang ada.

Suasana Pelabuhan sebelum keberangkatan kapal

Suasana Pelabuhan sebelum keberangkatan kapal

Dengan bantuan penjual rokok kami diberitahu kalau ada 4 orang yang cancel berangkat dan kami diminta menemui seorang ABK yang bernama Pak Usman. Tidak lama kami bertemu dengannya, dia langsung menawarkan tiket dengan harga Rp 100.000/tiket. Meski kami lihat di tiket tertera harga Rp 86.000, kami tidak banyak bertanya, kami hanya berterimakasih dan lega akhirnya kami bisa berangkat juga. Jadi saran saya datanglah lebih awal atau bisa menghubungi sanak saudara yang ada di Jepara untuk membeli tiket kapal penyebrangan ke Karimun Jawa, karena jadwalnya yang tidak tiap saat dan minimnya akses untuk memesan tiket via online/phone. 🙂 🙂 🙂

Di dalam Kapal Ekspress Cantika 89

Di dalam Kapal Ekspress Cantika 89

Menuju Dermaga

Menuju Dermaga

Kapal Ekspress Cantika 89

Kapal Ekspress Cantika 89

 

Blind Travelling

Kategori “Travel Time” masih kosong nih. Sebentar lagi saya akan mengisi lembaran blog saya dengan perjalanan “blind travelling” saya dengan teman-teman terbaik saya.

Seorang teman mencetus, “Gimana kalau kita ke stasiun dan kita beli tiket random yang saat itu masih ada”. Dengan terkejut aku pun membalasnya dengan berbinar-binar, “huaaaaa…. itu hal paling gila yang ingin aku lakukan dari dulu!! Count on me!!”.

Pertengahan Maret ini, saya akan mengalami perjalanan luar biasa, dan sampai dengan sekarang saya masih belum tahu kemanakah perjalanan ini membawa saya pergi. Yang saya tahu ini adalah hal yang sudah lama saya inginkan sejak dari dulu, namun saya belum mempunyai “partner” yang error, bego, sok berani seperti saat ini. So, cerita nya akan saya lanjutkan setelah saya melakukan perjalanan “Blind Travelling” Maret ini. Semoga akan banyak hal yang bisa mengembalikan mood saya dalam menjalani rutinitas ini.

Wwwohoooooooooo… I’m so excited!!!

Kisah Cinta, Pertemanan dan Pernikahan

“Saya baru menyadari kenapa Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna, karena Tuhan telah menciptakan manusia lainnya sebagai pasangannya. Sehingga mereka dapat saling mengisi kekurangan dan melebur menjadi satu manusia yang sempurna” ~Marsha Timothy dan Vino G. Bastian

Bila memang benar itu cinta maka kejarlah dan perjuangkan, karena hal yang paling menyakitkan adalah bila pasangan kita tidak lagi mencintai kita…