Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Archive for February, 2013

The Day We Met..

Dear you…

This song is dedicated to you..  and i describe my feeling on you with this song..

“And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more”

I Live in Empty Soul

Seperti hati yang terpenjara dan tubuh harus tersenyum di depan semua orang

Seperti hati yang terpenjara dan tubuh harus tersenyum di depan semua orang

 

Tubuh tanpa jiwa itu adalah seperti saya akhir-akhir ini. Saya bergerak tanpa jiwa, saya hanya menjalani rutinitas tanpa ada “passion” dan “feeling”. Pernah saya mengetik di kantor, tanpa ekspresi tapi air mata jatuh tanpa sebab. Pernah saya berjalan dan menyebrang jalan tanpa rasa hati-hati.  Setiap malam terbangun tepat pukul 02.00 dini hari karena mimpi-mimpi buruk, dan ketika terbangun mata saya sudah basah karena menangis dan saya tidak ingat mimpi itu bercerita tentang apa. Saya bahkan menjadi robot, dimana tubuh saya bergerak tanpa henti tetapi tanpa perasaan.

Saya tidak tahu penyakit apa yang menyerang tubuh saya ini. Saya mencoba bertanya “mbah google”, tetapi tidak ada gejala-gejala penyakit seperti ini. Namun ada sebuah artikel yang mengatakan ini merupakan penyakit hati. Tubuh tidak dapat mengikuti hati, karena otak mencuri peran pemimpin dan mengalahkan hati. Otak memberikan perintah untuk menghindar dan tak mengindahkan kata hati. Otak meminta tubuh untuk memproteksi diri untuk bersikap “dingin”.

Namun ketika tubuh bekerja dengan pimpinan otak, dan peran hati dihilangkan, maka akan ada ketidaksesuaian dalam pribadi seseorang. Apa yang dia kerjakan tidak membuatnya bahagia atau bersemangat, tetapi bahkan bisa mengeluarkan air mata. Mungkin saat itu hati ingin berteriak, menuntut agar suaranya dapat didengar dan diperhatikan.

Saat ini yang saya butuhkan adalah waktu yang sangat panjang untuk menghilangkan diri dari rutinitas dan kegiatan yang mampu mengingatkan saya pada berbagai masalah yang saya hadapi. Terkadang saya ingin merasa amnesia dan terlahir sebagai manusia yang baru dan hidup di lingkungan baru. Namun bila saya memilih keadaan itu, hanya akan membuat saya menjadi tidak dewasa.

Hard Rain and Many Moments included

 

6 Februari kemarin, setelah menyelesaikan pekerjaan sore itu di DPR, sekembalinya aq ke kantor yang terletak di bilangan Monas, nyatanya aq terjebak hujan yang sangat deras dan disertai dengan angin badai. Untungnya saat itu aq menebeng salah satu rekan kerja yang kebetulan bersama menyelesaikan pekerjaan di DPR.

Butuh waktu lebih dari 1 jam dari Senayan – Monas. Padahal saat itu jalanan cukup lancar dan terbilang sepi, namun tiap mobil tampaknya berjalan sangat pelan, karena hujan deras di Jakarta saat itu.  Jarak pandang mobil menjadi sangat pendek, kami tidak mampu menjangkau penglihatan keluar karena hujan badai saat itu.  I called it as hard rain.

Namun setibanya di Kantor, aq hanya kembali keruangan untuk mengembalikan beberapa peralatan kantor dan siap-siap untuk pulang kerumah. Berharap dengan masih hujan, jalanan tidak menjadi macet. Persiapan saat itu, sebuah jaket dan sebuah payung panjang yang kokoh.

Atasanku memberikan tumpangan saat itu, dan aq diturunkan di tanah abang. Kebetulan dari sana, aq bisa sekali naik kopaja yang lewat depan jalan rumahku. Beruntungnya, tidak lama menunggu, aq bisa mendapatkan kursi di kopaja itu. I feel so gratefull. Berharap tidak menikmati kemacetan yang berarti, namun kali ini prediksiku salah.

1 jam berlalu, dan kuputuskan untuk tiduran sebentar, 2 jam berlalu, kubuka mata dan ternyataa… aku masih di Bank Indonesia..

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.15, aku putuskan untuk turun dan berjalan kaki. Maksud hati, berjalan kaki hingga menemukan mushola untuk shalat Maghrib, ternyata jalanan penuh dengan air hingga semata kaki. Dan aku berpikir, pakaian aku sudah tidak bersih lagi untuk shalat. Kuteruskan saja, untuk berjalan kaki.

Lucunya saat berjalan kaki itu, aku bisa melihat ekspresi wajah orang-orang yang sedang stress. Selain itu, polisi yang sengaja bersembunyi di pos-posnya masing-masing karena lalu lintas sudah tidak mampu diatur kembali.  Semua kendaraan baik mobil dan motor saling ber-klakson dan tidak mau mengalah. Tukang-tukang ojek yang berjajar menawarkan para pejalan kaki seperti aku untuk membeli jasanya. Hampir terpengaruh dengan tawarannya, namun setelah melihat kembali jalanan di daerah kebon sirih yang tidak bergerak sama sekali, akhirnya aku pun menggeleng kepada para tukang ojek yang sudah sangat berharap banyak. Kuputuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan pulangku dengan berjalan kaki.

Yang menarik lagi, trotoar yang tidak lagi menjadi hak pejalan kaki telah dicuri sepenuhnya oleh pengendara motor. Alhasil, pejalan kaki pun menjadi macet. Memaki-maki deh akhirnya di dalam hati.  Menunggu antrian motor selesai, akhirnya pejalan kaki bisa berjalan kembali. Fiuhh….

Banyaknya pemandangan di perjalanan pulang itu sangat menyenangkan, aq selalu melihat kanan kiri merekam apa yang ada. Sayangnya, saat itu smartphoneku sedang off karena lowbat, jadi aq tidak bisa mengambil gambar-gambar menarik itu saat hujan.

Gak kerasa perjalanan pulangku itu telah mencapai Cikini. Sebenarnya jalanan di Cikini sudah sepi dan lancar, tapi aku masih memutuskan berjalan kaki saja. Tidak lama, di depanku berjalan pasangan lucu sekali, mereka menggunakan payung kecil yang menurutku itu hanya cukup untuk satu orang aja atau aq sebut “Payung Egois”. Dan untuk mengantisipasi kena hujan, mereka berjalan dengan berpelukan. Melihatnya sih aku hanya senyum-senyum simpul, karena kelihatan sekali mereka sangat tidak nyaman dengan hal itu dan terpaksa tertawa untuk menutupi rasa malunya.  “Menurutku itu romantis loh”, kalimat itu ingin aku sampaikan ke pasangan tersebut untuk mengurangi ketidaknyamanan mereka.

Mengingat pasangan tersebut, aku pun berpikir, mereka pasti pasangan baru yang masih malu-malu. Kejadian unik memang, dan tak kerasa sudah hampir satu jam aku berjalan, dan rumahku sudah di depan mata. Alhamdulillah akhirnya sampai juga..

Begitulah ceritaku di malam itu,yang penuh peristiwa di dalamnya, dan aku tidak menyesal berjalan kaki malam itu karena dengan berjalan kaki aku tidak kehilangan moments yang menarik dan ini menyenangkan!!

Football Game

Cinta itu ibarat permainan bola..

Ada yang kalah ada yang menang, ada yang bahagia ada yang sedih.  Semuanya tergantung pada kerja tim, yaitu kedua pasangannya.

Ibarat tim, bila keduanya bekerja sama dengan baik, yakinlah kemenangan di tangan dan kebahagiaan di depan mata. Namun jika keduanya sama-sama egois, maka sudah jelaslah kekalahan yang akan di dapat dan kesedihan yang akan dihadapi.

(doc.ranti)

Cinta itu juga memiliki time limit nya, karena sesungguhnya cinta itu akan hilang dimakan waktu, kecuali cinta orangtua dan cinta Allah SWT kepada umat-Nya. Karena cinta memiliki batas waktunya, maka jangan sampai waktu habis dan kalian tidak mencapai tujuan dari cinta kalian yaitu KOMITMEN.

Menghadapi sebuah komitmen itu seperti adu penalty. Kemungkinan masuk golnya 50 : 50, kemungkinan berhasil komitmennya 50 : 50. Tergantung seberapa yakin penendang bola mampu memasukkan bola ke dalam gawang. Bila merasa masih ragu-ragu akan keyakinan komitmen anda baik secara mental maupun kemampuan lahir, maka mundurlah secara terhormat daripada anda menyakiti hati pasangan anda yang sudah terlalu lama menunggu dan berharap.

Jadi apakah anda siap bertanding bola dengan fair? Kemana tujuan kalian membina sebuah hubungan? Semua ada di tangan kalian masing-masing, kerja tim atau egois ingin menang sendiri..? 🙂