Miu Si Traveler and The Strories

A happiness is belong to us, so reach it!!

Officemates VS The Hectic Day

Hello.. Let us introduce ourself! We’re just common people with an expert talent to get an amazed result.

Call us as crazy employee. Knowing our framework, we work for fun not for money!

Getting closer with us! Ordinary employee with a huge smile for all job..

Note: this video is belong to me! Created by @miungisranti ❤️

2 Manusia 2 Planet (part.2)

image

Tanda cinta ini akan rapuh dimakan waktu

Read the rest of this entry »

2 Manusia 2 Planet (part.1)

image

Terhampar di lautan, tertinggal satu buket bunga (photo by: ranti)

Perasaan ini menusuk jauh dalam tiap sel darah dan hipodermis kulit, yang menjadikannya terasa dingin dan memaksa neural network bekerja lebih cepat menekan neuron-neuron hierarchical organization untuk memutar kembali informasi yang telah terekam dalam sebuah memory. Kamu, pria dewasa yang memiliki tingkat kedinginan lebih minus dari suhu pada dua kutub bumi ini, menjadi memory pertama yang dapat di replay di dalam otakku.

Bukannya sengaja tetapi entahlah disaat hidup berada ditengah2 jembatan dimana kanan adalah jurang bahagia atau kiri jurang kesedihan, kamu yg pertama muncul dalam neuron-neuron memory itu.

Kusadari, kmu pria baik kepada siapapun yang mampu mengorbankan miliknya untuk menolong orang lain yang mungkin tdk kamu kira, kebaikan mu itu menjadi hal yang nyata dan kadang membekas seperti goresan luka yang tertanam pada orang lain. Luka yang tidak ingin disembuhkan tetapi malah menjadi luka yang dipelihara, bagiku.

Bodohnya aku adalah aku terlalu egois, tanpa sadar aku telah menjadi satu pion catur yang menjadi bagian dalam sebuah permainan mahadahsyat. Semua seperti memiliki sutradara jenius yang bisa  membuat semua cerita ini terus nengalir sempurna seperti aliran mata air.

Rasa yang tumbuh dalam diriku ini membahagiakan seperti meminum ramuan sihir atau seperti kesenangan dalam imajinasi atas reaksi cairan wine putih yang menenangkan.

Namun sayangnya, mungkin aku terlalu jauh untuk dapat menyeimbangkan pikiran kamu yang memang dari awal sudah terbentuk dari hobi membaca goresan2 tinta dan alenia2 kehidupan yang terekam dalam sebuah buku. Salahku ini menjadi satu arti aku mungkin hanya bisa berdiri dibelakangmu, melihatmu, bahkan meniru setiap gerak tubuh kamu layaknya sebuah bayangan dan menjaga goyangan tubuhmu yang kadang-kadang rapuh karena kebaikanmu sendiri seperti benteng ribuan tahun berdiri.

Percayalah.. Tapi aku masih merasa bahagia kalau kmu masih menatapku dengan tatapanmu disaat pertama kita bertemu.. (Continued)

Menapaki Syukur dari Allah Melalui Gunung Sikunir, Dieng Plateu (What a disaster journey, but..)

Image

Pagi-pagi buta, kamar kami sudah dipenuhi dengan hiruk pikuk untuk persiapan tracking ke Gunung Sikunir, Dieng, Banjarnegara. Yes!! Ini kali pertama bagi saya memulai perjalanan menuju gunung dan chasing the sunrise. Excited! Saya yang telah lama mempersiapkan berbagai peralatan tempur seperti jaket super tebal dan anti air, sarung tangan, syal, kaos kaki dan sendal gunung itu cukup dikatakan berlebihan. Saya seperti mentertawakan diri sendiri, karena teman-teman seperjalanan saya cukup simple mempersiapkan semuanya..hahhahaa.. But anyway, pukul 03.00 WIB memang sangat dingin, ketika saya tanyakan kepada pak didiek (guide kami), “Pagi ini cukup dingin mbak, karena semalam habis hujan, ini bisa mencapai -5 derajat”. Waahh… saya buru-buru menambahkan dalaman jaket biasa sebagai sumpelan agar hangat.

Jam 03.30 WIB, kami tiba di gerbang Gunung Sikunir. Saat itu, di pelataran parkir sudah banyak rombongan yang berkumpul untuk memulai tracking ke atas. Bisa dipastikan 90% adalah rentang usia 15 – 30 tahun, usia-usia dimana travelling menjadi jiwa sekaligus candu bagi mereka, termasuk saya. Yap! kami pun siap memulai tracking pagi ini, tetapi ketika akan mau berjalan, kami menyadari satu kesalahan, kami tidak mempersiapkan senter!! Kondisinya adalah gelap gulita, dan jarak pandang tidak mampu menembus jalanan. Kami mulai panik, untungnya ada ibu-ibu penjual makanan yang menawarkan diri, “ayo mbak bareng-bareng saya saja..”. Tampaknya semuanya kembali lancaaarr….

Menapaki satu demi satu track gunung itu, cukup melelahkan. Cuaca yang minus derajat tersebut, membuat nafas kami menjadi pendek. Saya pun yang memiliki record asma, tiba-tiba saja mulai sesak nafas. Tetapi saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu pedagang itu, mereka membawa beban yang cukup berat di pundak dan punggungnya tetapi tidak mengeluh. Bahkan kecepatan berjalan mereka cukup stabil. Padahal bisa dibilang umur mereka diatas 50 tahun, mendaki gunung ini sepertinya menjadi makanan mereka sehari-hari. Melihat mereka menjadi motivasi bagi saya, bahkan saya pun menjadi yang pertama sampai di puncak gunung di rombongan saya.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak Gunung Sikunir, memang tidak terlalu tinggi karena Dieng sendiri sudah pada dataran tinggi. Ketika mencapai puncak, tepat pukul 04.30 WIB, suasana masih remang-remang gelap dan penuh kabut tebal. Adzan pun berkumandang, lagi-lagi saya kelupaan membawa mukena. Setelah celingak celinguk, saya mendapati ada dari rombongan lain sedang beribadah dengan kondisi seadanya. Melihat rombongan tersebut, saya menghampiri mereka dan berbincang pada salah satu rombongan untuk meminjam mukenanya. Alhamdulillah Allah selalu mengingatkan saya untuk beribadah dan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk beribadah, meskipun saya selalu lupa membawa mukena. hehe…

Perbedaan solat di masjid, rumah dan di kamar dengan solat diatas gunung itu sungguh luar biasa berbeda. Bukannya melebih-lebihkan, tetapi ketika saya menjalani rakaat demi rakaat diatas gunung itu, hati saya selalu tergetar. Saya bersujud dan mengucapkan syukur, persis didepan keAgungan Allah SWT. Pemandangan yang terhampar persis di depan saya saat bersujud dan berdoa ini, tampaknya menjadi bukti betapa kecilnya saya sebagai salah satu ciptaan Allah. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya saat beribadah di atas gunung, hal ini menjadi salah satu tamparan bagi saya untuk selalu bersyukur atas kehidupan di dunia.

Image

Kuning Keemasan di langit menjadi pengingat kalau matahari akan muncul di balik awan. Sayangnya kabut tebal menjadi penghalang keindahan itu. Kami hanya mendapati warna-warna keemasan diantara birunya langit subuh hari itu. Namun hal ini tidaklah mengecewakan kami, karena kami sudah cukup puas melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Subhanallah…

Finally, kami tiba di Dieng Plateu! (What a disaster journey, but..)

image

Welcome!!

Perjalanan 24 jam itu segera terlupakan, setelah saya melihat remang-remang gapura selamat datang di Objek Wisata Dieng Banjarnegara, yang telah ditutupi kabut dingin malam. Ya, kami tiba di dieng sekitar jam 8 malam. Saat itu kami
kesenangan setengah mati melihat area dieng seperti melihat surga, setelah mengalami penderitaan panjang di dalam bus.

Tepat pukul 09.00 malam, setelah menikmati air es beku untuk mandi. Kami siap menikmati malam hari itu dengan berkumpul dengan para traveler melihat pesta kembang api dan pesta lampion di kawasan candi arjuna.

Pesta kembang api sih sudah menjadi hal yang biasa, namun yang paling kami tunggu ada pelepasan lampion. Pasti romantis dehh! Eeh.. Lupakan kata romantis, karena saya kesana tidak bersama pacar/gebetan/temen dekat/suami. Tapi saya pergi bersama para traveler narsis.. 2 wartawan, 2 pegawai bank, 1 pegawai kedutaan dan 1 PNS, sebut saja abe, bayu, delti, iran, catur dan saya sendiri.

image

(Dari atas-bawah/kanan-kiri) abe, bayu, catur, delti, saya di kawasan candi arjuna.

Bukannya romantis, teman2 saya selalu meminta difoto setiap moment. Padahal saya bawa kamera mirrorless untuk hunting foto2 keren tetapi saya malah menjadi “tukang foto”nya temen2 traveler narsis saya.. 😀

image

Pesta Lampion

Kembali lagi ke acara pesta lampion. Pesta ini diadakan di kawasan candi arjuna. Dimana kawasan yang cukup luas ini, terhampar candi-candi kecil yang cukup indah. Namun sayangnya kawasan ini tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup, sehingga pesta lampion ini tidak cukup terlihat cantik. Padahal saya sudah membayangkan pesta lampion ini terlihat cantik ketika difoto dengan dikelilingi oleh candi-candi yang ciamik. Penerangan yang kurang menyebabkan lokasi candi ini menjadi tidak terlihat.

Pesta lampion ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang mendaftar sebelumnya, dengan membayar penggantian lampion. Peserta pesta lampion ini bersama-sama melepaskan lampionnya. Dan alhasil, langit di dieng plateu ini menjadi indah berwarna-warni karena dipenuhi dengan lampion-lampion.

1001 jam dalam kehidupan bus! (What a disaster journey.but…)

image

Mendapati diri duduk di tengah pada bus yang memiliki formasi kursi 3-2 adalah musibah buat saya.. Iya! Saya pikir duduk ditengah2 pada formasi 3nya bisa saya lewati dengan mudah dan optimis, perjalanan ini akan menyenangkan!.

Melihat penderitaan teman-teman saya yang duduk pada posisi yang tidak nyaman menjadi cerita unik buat kami selama perjalanan ini.

Terkikik, adalah hal pertama buat kami dalam mentertawakan diri kami.. Bayangkan saja, saya duduk di antara dua ibu-ibu rempong yang bawa segambreng kardus.. Bau ketek, bukan lagi maslah buat saya, karena saya bisa sangat memaklumi penuhnya bus membuat air-conditioning tidak mampu mengatasi kegelisahan dan ramainya penumpang bus. Yang paling menjadi masalah terbesar dalam posisi duduk saya adalah seorang Ibu yang memiliki hobi : mengeluh dan cerewet.

Oke! Saya mulai dengan kosakata CEREWET. Kata ini emang tidak asing bagi saya namun, kata ini saya sangat berharap jauh2 dari kehidupan saya saat itu. Sepanjang perjalanan, ibu disebelah kanan saya ini, sebut saja bu Tini, dari awal saya duduk sampai turun bus tidak pernah berhenti bicara. Pembicaraan pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Pak supir..kapan sampai?” Dan kalimat yang terkakhir saya dengar dari mulutnya adalah “Pak supir, ini kapan sampainya?”. Apa perlu saya ceritakan mengapa dia saya sebut cerewet? Semua orang pasti paham pertanyaan yg berulang2 itu sengaja dikeluarkan menandakan ketidaksabaran seseorang dalam memahami situasi yang ada.

Perlu dibayangkan, apa yang saya rasakan setiap menandapati pertanyaan itu tepat didepan telinga kanan saya? Menggila! Iya saya menjadi semakin menggila dan menjadi tidak nyaman. Setiap bu Tini bertanya saya hanya bisa tersenyum. Senyum miring dengan derajat kemiringan 45°, yang berarti kecanggungan dan tidak menyenangkan.

Kosakata kedua selanjutnya adalah MENjGELUH. Kata sifat satu ini adalah sifat negatif yang saya tidak sukai. Mendengar orang mengeluh, sama saja membuat saya membawa beban pikul seberat 100kg. Keluhan yang dikeluarkan itu sebenarnya pun tidak penting untuk dikeluarkan karena bukan hanya menyembuhkan hati yang cemas tetapi malah membuat rasa cemasnya menjadi 100x lipat.

Mendengar bu Tini disebelahku selalu mengeluh seperti kursi sempit, panas, lama, lambat, macet, dan sebagainya itu, sama saja mentransfer energi negatif yang dimiliki bu Tini kepada saya. Ion negatif itu membuat saya menjadi terasa lebih capek!

Perjalanan seolah melambat akibat ketidaknyamanan yang dimiliki satu orang menjadi milik bersama.

Jarak tempuh normal jakarta – wonosobo kurang lebih 12 jam ini, menjadi 2 kali lipat mencapai 24 jam untuk menjangkau Dieng Plateu, lokasi wisata yang saat itu sedang mengadakan festival dieng..

24 jam seperti 1001 jam. Aku mendapat diri saya untuk dipaksa tidur bila ada kesempatan demi menghindari dari keluhan Bu Tini yang super dahsyat!!

Penderitaan saya bukanlah yang terhebat. Teman perjalanan saya delti, dia terpaksa duduk di kursi tambahan disebelah supir persis. Bukan karena kursi tambahannya, tetapi karena dia harus terpaksa menemani si supir mengobrol karena takut si supir mengantuk. Baiknya adalah sifat ramahnya, mampu membuat supir berbincang asik dengannya, sehingga si supir tidak kembali mengantuk. Tetapi ramah itu juga kan  tidak harus dengan cara menemani supir mengobrol semalaman suntuk…

Aaahh… Penderitaaan 24 jam perjalanan itu seperti 1001 jam yang memiliki banyak rasa dan cerita.. Kesal dan tertawa adalah dua hal yang berbeda, namun perjalanan saya ini bisa membuat 2 hal yang bertolak belakang menjadi 1 hal yang terjadi saat bersamaan.

Di Luar Batas Logika

image

Malam itu aku pun kembali merewind seluruh kejadian yang aku lakukan bersama kamu.. Aku bisa dengan sangat mudah mengingatnya, seolah semua terjadi baru saja kemarin.. Padahal semuanya dilalui hingga tahun2 terakhir kemarin..

Bukan terbangun, tetapi seolah otak tanpa aku suruh membuat aku kembali mengingatnya.. Aku sudah tdk bisa lagi menjadi penguasa dalam diri sendiri bahkan otak dan perasaan aku sendiri.. Padahal aku memiliki prinsip, semua bisa aku atur dengan logikaku dan rancangan awalku terhadap diriku sendiri..

Namun seolah otak mentertawakan dan mengejekku, aku tak mampu lagi mengaturnya menjadi apa yang aku mau.. Otak dan perasaan seolah bekerjasama dan mengkhianati tubuh aku dan diriku sendiri, hingga aku tak mampu lagi menahannya..

Pengkhianatan ini bisa jadi adalah penyakit. Penyakit yang menggerogoti diriku sedikit demi sedikit ke dalam jaringan dan memakan semua sel tubuh hingga ke organ tubuhku..

Aku tak bisa mendefinisikan penyakit ini tapi aku tahu bahwa semuanya nyata dan memang terjadi. Aku semakin lemah pada akhirnya, ingin aku menyerah namun ada sebagian diri mengatakan untuk tetap berprinsip dan tidak mau kalah pada penyakit ini. Awalnya aku mampu mengatasinya, tetapi sekarang penyakit inilah yang menguasai diriku..

Penyakit ini : cinta katanya!.

image

Cinta ini melemahkan aku bukannya menguatkan aku.. Aku bahkan mengalami hari-hari yang berat belakangan ini, tetapi perasaan ini bukannya membantu tetapi melemahkan. Entahlah sebutan kalimat ‘cinta itu menguatkan’, nyatanya tidak berlaku pada diriku.. Aku seperti memiliki ketergantungan yang addict, seperti pada narkoba dan sebagainya yg mampu membuat seseorang kecanduan. Dan disaat narkoba itu menjadi haram dan melemahkan orang, maka sudah sebaiknya narkoba itu kita tinggalkan dan lepaslah dari ketergantungan yang melemahkan itu..

Namun apakah itu berlaku juga pada cinta? Entahlah aku sampai dengan hari ini tidak bisa mendefinisikan apakah ini cinta? Tepatkah ini disebut cinta?

Oke kita lupakan apa itu definisi cinta menurut KBBI atau wikipedia atau google! Yang aku tahu dia bisa membuat aku diluar batas logikaku, dimana tubuh sudah tdk bisa lagi aku kuasai, semuanya sudah dikuasai penuh dengan perasaan itu.

Itulah yang terjadi pada diriku sekarang, aku bisa dengan mudah merewind semua cerita yang pernah aku lakukan bersama kamu. Kamu menjadi candu dalam diriku yang saat ini melemahkan tubuh aku dan membuat aku ketergantungan.. Di saat mengalami hal berat, cinta malah memberatkannya.

Apakah baik? Tidak sepertinya, aku bukan menjadi kuat karena cinta tetapi aku menjadi tunduk kepada cinta..

Maka bila ini memang tidak baik, buat apa aku teruskan? Tetapi untuk apa Allah memberikan ‘gift’ ini kepadaku? Apakah Dia ingin aku belajar? Atau Dia ingin melatihku menjadi wanita yang tangguh?

Iyaa… Aku harus kuat dan aku harus tangguh.. Di kehidupanku, aku sendirilah yang memilih kehidupanku… Aku harus kembali mengambil alih peran otakku untuk segera kembali berjalan menggunakan logika dan semua akan berjalan logis dan masuk akal…

Bila dia melemahkan berarti ini bukan cinta.. Ini keegoisan! Bila dia menguatkan, itulah yang disebut cinta.. Aku akan menjadi wanita kuat tanpamu dan aku tdk akan lagi menjadi wanita lemah yang merengek seperti anak kecil. 🙂

Terima kasih..